ACEH 2

Diposting oleh Unknown on Minggu, 17 November 2013


                                           -bagi penyair Maskirbi-Nurgani Asyik dan pelukis Versevenny.

luka membatu

hati berlagu

luka membiru

senyum membeku

kita bersulang menimang mimpi. Pagi

yang bening jadi kelam. Luka-duka

menari di samudera pikiran. Aku tatap kota

melesat dalam waktu berkalang maut

orang-orang menanggalkan hati

satu demi satu. Ini tubuh siapa punya

memanggil-manggil Tuhan di setiap

aliran nadi. Kami ini jiwa-hati mencatat

lara-tak bisa lari tak bisa sembunyi

orang-orang berkelahi bersama ombak

di kelap-kelip waktu. Orang-orang lalu-lalang diantara

aroma mayat-meski teramat pahit. Nafas

pesakitan tersirat di wajah penderitaan. Aku

tabur bunga di pusara bernama Aceh

(kapan usai hikayat bertopeng ini, duhai!).




luka membatu

hati berlagu

luka membiru

senyum membeku

kita bersulang menimang mimpi. Pagi

yang bening jadi kelam. Gundah-gelisah-sakit

pilu menyatu dalam bingkai cinta-lara

telah aku kecup getir di kamar rahasia

menghabiskan malam dalam senyum-beku

waktu mengirim setangkai kembang meraih

bulan-gerimis masih berkelahi di halaman

siapa diantara kita terluka-padamu

pahatkan resah. Kabut-angin-api-air

mempersiang diri dalam sepi

secangkir kesedihan terceruk belati

menggali terusan air mata dikedalaman

mata air kami. Seperti Tuhan pada

waktu subuh menabur gelombang

sembunyikan getir-cinta terbunuh

udara kelabu-aroma kematian terhidang

diperjamuan menyekap pikiran

erat berpangut-berapa harga

kelicikan

harus

kubeli

(aku beli keluh-kesah itu selipkan di kain kafanmu).






luka membatu

hati berlagu

luka membiru

senyum membeku

kita bersulang menimang mimpi. Sudah

waktunya kita pulang-entah bagaimana

menerjemahkan kesucian terhidang

lewat nikmatnya sakit. Sesakali aku pulang

menyaksikan bungong jeumpa patah

tunasnya. Hanya pada bayang bercerita;

Maskirbi-baru saja kita poh cakra di keude khupi tentang Aceh

agar menyelesaikan konflik dengan cinta-seni biar

tak ada yang mati sia-sia. Memahami

luka dengan kasih sayang bukan dendam. Nurgani Asyik

terakhir kali kita keliling Darussalam-Ulee Kareng serta minum

kopi di pantai Ulee Lhee sambil menikmati shanset turun

memeluk malam-tempat kita berkelahi pikiran. Versevenny

dimana kau simpan kanvasmu-melukiskan ini kalbu

terbelah. Selamat malam cinta-aku hanya mampu mengirim

doa jadikan tembang menemani perjalanan malammu. Di pusara

tujuh bidadari menanti-menabur wangi mawar antar ke pintu surga

(hari ini kita berkabung-di tegur Tuhan untuk kenali diri).

Aceh-Padangpanjang, 2005

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar