-bagi penyair Maskirbi-Nurgani Asyik dan pelukis Versevenny.
luka membatu
hati berlagu
luka membiru
senyum membeku
kita bersulang menimang mimpi. Pagi
yang bening jadi kelam. Luka-duka
menari di samudera pikiran. Aku tatap kota
melesat dalam waktu berkalang maut
orang-orang menanggalkan hati
satu demi satu. Ini tubuh siapa punya
memanggil-manggil Tuhan di setiap
aliran nadi. Kami ini jiwa-hati mencatat
lara-tak bisa lari tak bisa sembunyi
orang-orang berkelahi bersama ombak
di kelap-kelip waktu. Orang-orang lalu-lalang diantara
aroma mayat-meski teramat pahit. Nafas
pesakitan tersirat di wajah penderitaan. Aku
tabur bunga di pusara bernama Aceh
(kapan usai hikayat bertopeng ini, duhai!).
luka membatu
hati berlagu
luka membiru
senyum membeku
kita bersulang menimang mimpi. Pagi
yang bening jadi kelam. Gundah-gelisah-sakit
pilu menyatu dalam bingkai cinta-lara
telah aku kecup getir di kamar rahasia
menghabiskan malam dalam senyum-beku
waktu mengirim setangkai kembang meraih
bulan-gerimis masih berkelahi di halaman
siapa diantara kita terluka-padamu
pahatkan resah. Kabut-angin-api-air
mempersiang diri dalam sepi
secangkir kesedihan terceruk belati
menggali terusan air mata dikedalaman
mata air kami. Seperti Tuhan pada
waktu subuh menabur gelombang
sembunyikan getir-cinta terbunuh
udara kelabu-aroma kematian terhidang
diperjamuan menyekap pikiran
erat berpangut-berapa harga
kelicikan
harus
kubeli
(aku beli keluh-kesah itu selipkan di kain kafanmu).
luka
membatu
hati berlagu
luka membiru
senyum membeku
kita bersulang menimang mimpi. Sudah
waktunya kita pulang-entah bagaimana
menerjemahkan kesucian terhidang
lewat nikmatnya sakit. Sesakali aku pulang
menyaksikan bungong jeumpa patah
tunasnya. Hanya pada bayang bercerita;
Maskirbi-baru saja kita poh cakra di keude khupi tentang Aceh
agar menyelesaikan konflik dengan cinta-seni biar
tak ada yang mati sia-sia. Memahami
luka dengan kasih sayang bukan dendam. Nurgani Asyik
terakhir kali kita keliling Darussalam-Ulee Kareng serta minum
kopi di pantai Ulee Lhee sambil menikmati shanset turun
memeluk malam-tempat kita berkelahi pikiran. Versevenny
dimana kau simpan kanvasmu-melukiskan ini kalbu
terbelah. Selamat malam cinta-aku hanya mampu mengirim
doa jadikan tembang menemani perjalanan malammu. Di pusara
tujuh bidadari menanti-menabur wangi mawar antar ke pintu surga
(hari ini kita berkabung-di tegur Tuhan untuk kenali diri).
Aceh-Padangpanjang, 2005
{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar