Antologi Puisi
(129)
Puisi
(78)
Riwayat
(73)
Sastra
(70)
RIWAYAT: 1995-2006
(56)
RIWAYAT: 1990-1994
(49)
Banda Aceh
(29)
Padang
(16)
Solo
(10)
Aceh
(8)
Padangpanjang
(7)
Refleksi
(5)
Rumah Puisi
(5)
Jakarta
(3)
Penyair
(3)
CeKa
(2)
Langsa
(2)
M. Nurgani Asyik
(2)
Pentas Amal
(2)
Takengon
(2)
Baca
(1)
Brastagi
(1)
Caleg
(1)
Diskusi
(1)
Guru
(1)
Gusdur
(1)
Isman
(1)
Iyut Fitra
(1)
Kritikus
(1)
Kutacane
(1)
Maskirbi
(1)
Mustafa Ismail
(1)
Prasasti
(1)
RIWAYAT: 1980 – 1989
(1)
Sawahlunto
(1)
Selebritis
(1)
Soediro Satoto
(1)
Solok
(1)
Taufik Ismail
(1)
Unsyiah
(1)
Usi Dayah
(1)
teater
(1)
Home » Archives for November 2013
LANSKAP HATI 2
Diposting oleh Unknown on Senin, 18 November 2013
rentak tari guel hilang di sunyi
malam. Tepuk didong tenggelam di senyap Laut Tawar
sebuku tenggelam pilu di dada pengembara. Di rantau
aku mencium harum renggali mengurung ruang
kepala. Aku menyaksikan Bensu Puteri berkecipak
di kolam tenang memanggil Malem Dewa
pulang kembali ke kamar cinta
(biarkan sebentar aku di sini menggali hati).
orang-orang di sini berkelahi bersama ombak
biarkan sebentar aku semedi menyucikan kalbu.
Solo, 2006
Label:
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006,
Solo
PERCUMA
Diposting oleh Unknown
percuma
membingkai hati. Andai pikiran
terkurung rahasia debu-mengeruh jauh
nurani mengumpal dengki dendam.
percuma
merenda hati. Andai perahu
terbuat atas nama kemarahan
mencipta topeng-melahirkan jiwa
pengecut jadi pahlawan
(kita adalah boneka dimainkan mimpi).
Solo, 2006
Label:
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006,
Solo
MAK: 360 HARI KEPERGIANMU
Diposting oleh Unknown
mak
sampai juga waktu menjemput
di penghujung ramadhan-subuh
yang hening melepas kau pulang
walau getir terasa menusuk-nusuk
antar kepergianmu dengan zikir dan doa.
mak
sampai juga waktu menjemput
Tuhan sudah tentukan-siapapun menunggu
giliran. Yang paling nyeri-kurindu
ketika pakaian kebesaran lengket di badan
berkat ikat pinggang pemberianmu. Diam-diam
engkau menghadap-Nya
aku belum sempat memberikan ini jiwa-menghargai
sakitnya air susu yang kau berikan-yang lebih teriris
pedih-aku tak bersama menjalankan tradisi mengenangmu
(kutumpahkan senyum walau gerimis tempias ke pipi).
Solo, 2006
Label:
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006,
Solo
DIALOG
Diposting oleh Unknown
siapa
menitip luka-dendam tersisa.
Solo, 2006
Label:
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006,
Solo
MAK: BULANKU HILANG
Diposting oleh Unknown
demokrasi itu apa?
“kita bagi kacang harus adil”
keadilan itu apa?
“ketika kantong pribadi tebal”
ketebalan itu apa?
“ketika kekuasaan itu kebal”
kekuasaan itu apa?
“ketika yang kuat menginjak tengkuk si miskin”
(Mak! Bulanku hilang-bulanku terbang).
Solo, 2006
Label:
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006,
Solo
POTRET DIRI
Diposting oleh Unknown
-dari rantau kuziarahi
makammu; mak.
entah dengan apa dapat melukiskan
kesetiaan. Bahasa yang bagaimana mampu
melahirkan sajak tentang keagungan
cinta. Mak, telah berton-ton ajaran
tersimpan di jiwa belum juga dapat
menyiram wangi seulanga ke dadamu
(aku ziarahi kuburmu dalam mimpi panjang)
Solo, 2006
Label:
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006,
Sastra,
Solo
ACEH 6
Diposting oleh Unknown on Minggu, 17 November 2013
kampung-kampung
masih terkepung sepi. Gerimis
memasuki rumah tanpa salam.
Solo, 2006
Label:
Aceh,
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006,
Solo
ACEH 5
Diposting oleh Unknown
masa
depan di sini
adalah masa depan air mata-darah-kematian
tumpah-rebah tanah tumpah darah. Darah
tumpah di tanah airku meninggalkan lebam
membekas di jiwa sepanjang masa. Aku
catat setiap sengketa sambil sempurnakan sabit
jadi purnama.
Solo, 2005
Label:
Aceh,
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006,
Solo
ACEH 4
Diposting oleh Unknown
titip sekian rindu. Siapa melewati
Seulawah masihkah bilik para datu
mengalirkan air kasih-Nya. Leluhur
membasuh dada bujang agar mampu menjalani
kerasnya hidup. Anak sampan belum siap
memutar haluan walau zikir sebaya sesekali
terdengar sayub. Biarkan dulu aku di sini menjaring
mimpi-mimpi yang pasti-bawa pulang buat anak
istri. Pergi ditepungtawari datu dengan doa-pulang
memandang luka memborok dalam kalbu.
Padang-Solo, 2005
Label:
Aceh,
Antologi Puisi,
Padang,
RIWAYAT: 1995-2006,
Solo
ACEH 3
Diposting oleh Unknown
hidup
berbatas cahaya matahari. Malam
bukan lagi milik bersama-tak ada lagi
perempuan-perempuan menangkap belalang
di sawah dan tegalan dengan lampu minyak
kelap-kelip buat lauk besok pagi-tak ada lagi
lelaki menikmati isapan rokok bersama dingin
malam sambil jongkok buang hajat di pinggir
kali. Tak ada lagi nyala petromaks di rumah
kematian mengumandangkan ayat pengantar kepergian
abadi. Orang-orang harus memilih keselamatan dengan diam.
Solo, 2005
Label:
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006,
Solo
ACEH 2
Diposting oleh Unknown
-bagi penyair Maskirbi-Nurgani Asyik dan pelukis Versevenny.
luka membatu
hati berlagu
luka membiru
senyum membeku
kita bersulang menimang mimpi. Pagi
yang bening jadi kelam. Luka-duka
menari di samudera pikiran. Aku tatap kota
melesat dalam waktu berkalang maut
orang-orang menanggalkan hati
satu demi satu. Ini tubuh siapa punya
memanggil-manggil Tuhan di setiap
aliran nadi. Kami ini jiwa-hati mencatat
lara-tak bisa lari tak bisa sembunyi
orang-orang berkelahi bersama ombak
di kelap-kelip waktu. Orang-orang lalu-lalang diantara
aroma mayat-meski teramat pahit. Nafas
pesakitan tersirat di wajah penderitaan. Aku
tabur bunga di pusara bernama Aceh
(kapan usai hikayat bertopeng ini, duhai!).
luka membatu
hati berlagu
luka membiru
senyum membeku
kita bersulang menimang mimpi. Pagi
yang bening jadi kelam. Gundah-gelisah-sakit
pilu menyatu dalam bingkai cinta-lara
telah aku kecup getir di kamar rahasia
menghabiskan malam dalam senyum-beku
waktu mengirim setangkai kembang meraih
bulan-gerimis masih berkelahi di halaman
siapa diantara kita terluka-padamu
pahatkan resah. Kabut-angin-api-air
mempersiang diri dalam sepi
secangkir kesedihan terceruk belati
menggali terusan air mata dikedalaman
mata air kami. Seperti Tuhan pada
waktu subuh menabur gelombang
sembunyikan getir-cinta terbunuh
udara kelabu-aroma kematian terhidang
diperjamuan menyekap pikiran
erat berpangut-berapa harga
kelicikan
harus
kubeli
(aku beli keluh-kesah itu selipkan di kain kafanmu).
luka
membatu
hati berlagu
luka membiru
senyum membeku
kita bersulang menimang mimpi. Sudah
waktunya kita pulang-entah bagaimana
menerjemahkan kesucian terhidang
lewat nikmatnya sakit. Sesakali aku pulang
menyaksikan bungong jeumpa patah
tunasnya. Hanya pada bayang bercerita;
Maskirbi-baru saja kita poh cakra di keude khupi tentang Aceh
agar menyelesaikan konflik dengan cinta-seni biar
tak ada yang mati sia-sia. Memahami
luka dengan kasih sayang bukan dendam. Nurgani Asyik
terakhir kali kita keliling Darussalam-Ulee Kareng serta minum
kopi di pantai Ulee Lhee sambil menikmati shanset turun
memeluk malam-tempat kita berkelahi pikiran. Versevenny
dimana kau simpan kanvasmu-melukiskan ini kalbu
terbelah. Selamat malam cinta-aku hanya mampu mengirim
doa jadikan tembang menemani perjalanan malammu. Di pusara
tujuh bidadari menanti-menabur wangi mawar antar ke pintu surga
(hari ini kita berkabung-di tegur Tuhan untuk kenali diri).
Aceh-Padangpanjang, 2005
ACEH 1
Diposting oleh Unknown
:bagi yang hilang-kehilangan
sekejab larut di lembah-bukit memanjang
jauh. Luka bersimaharaja di hati
membayang perjalanan masa silam
rindu belum lagi mau sembuh: gunongan *)
bukti cinta seorang hamba. Kherkhoef**)
lorong panjang catatan sejarah menari di pucuk
kenangan. Gerimis masih mengurung perjalanan.
sekejap larut di lembah-bukit memanjang
jauh. Di rantau aku tatap tubuhmu di lilit duka
api-angin-batu bersenggama pada dingin
gigil. Bunyi lesung bersorak-sorai dalam
hutan-asap menyesak-tingkah kaki terusik
gelisah. Sudah waktunya kita pulang
menata pekarangan rumah dengan cinta
kita harus menggantikan warna hitam
menjadi putih antar ke pintu surga
(mari jemput waktu lewat senyum di kening bulan).
Aceh-Padangpanjang, 2003-2005
Catatan: *) Gunongan: Taman yang di
bangun Sultan Iskandar Muda, peresembahan
Untuk
puteri Pahang.
**)
Kherkhoef: Perkuburan milik pemerintahan Kerajaan Belanda di Banda
Aceh.
Label:
Aceh,
Antologi Puisi,
Padangpanjang,
RIWAYAT: 1995-2006
SENYUM BEKU
Diposting oleh Unknown
menghabiskan
malam dalam senyum-beku
waktu. Anak-anak belajar mengeja
cinta pada selembar daun-jadi cerita
di ruang pemikiran. Menjaring mimpi
bawa pulang
buat
anak
isteri
ah!
Banda Aceh, 2004
Label:
Antologi Puisi,
Banda Aceh,
RIWAYAT: 1995-2006
LUKA 2
Diposting oleh Unknown
merah
putih. Terkoyak api dendam.
Padang, 2003
Label:
Antologi Puisi,
Padang,
RIWAYAT: 1995-2006
PENJARA
Diposting oleh Unknown
sejarah
mengajarkan kekerasan tak membawa
perdamaian. Rakyat terpenjara pertarungan
identitas. Di sini kebenaran sedang dipertaruhkan
ribuan cerita bertebaran-yang tersisa hanya doa.
Aceh, 2003
Label:
Aceh,
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006
LAGU
Diposting oleh Unknown
selamat
petang luka
belati menggali terusan air mata
dalam kedalaman mata-seperti Tuhan
pada waktu subuh. Sembunyikan mimpi.
Padang, 2005
Label:
Antologi Puisi,
Padang,
RIWAYAT: 1995-2006
SAWAHLUNTO ERAT SEKEJAB
Diposting oleh Unknown
sekejab
larut di lembah-bukit memanjang
jauh. Semakin remang sayap malam
seperti kembali ke masa lalu
warisan sejarah abadi terjaga di perut kota;
lubang tambang batu bara
arsitektur kuno bernilai sejarah
lorong panjang meninggalkan
catatan tradisi keragaman budaya
melahirkan jejak perjuangan
hidup kuli-kuli tambang-tragis
penuh tragedi. Mereka adalah pahlawan.
sekejab larut di gerbang kota
lembah-bukit erat menyambut memanjang
jauh. Lepas tak lepas menatap lekat wajah kota
membayang perjalanan masa silam
rindu belum lagi mau sembuh
menyaksikan peninggalan sejarah
kota tambang-memasuki masjid agung
bekas gudang mesiu. Patung pekerja saksi
bisu. Angin lembut semilir turun
menari-nari di atap rumah
mengantar ke pucuk kenangan.
sekejab larut di lereng lembah-bukit memanjang
jauh. Silungkang menebar senyum kepada
pendatang. Selamat datang cinta
di sini ada songket di tenun jemari lentik
rasa hendak berpeluk erat tak mau pergi
dekapkan aku wahai kota yang dikalungi kawat
berduri ditubuhnya sejak abad dua puluhan.
sekejab bersamamu-semakin remang sayab malam
menyapu kota mungil jiwa berganyut. Sayub
terdengar tembang ninabobok menidurkan buyung di halaman
harum bunga kopi mengantar mimpi ke pintu surga
lembah-bukit memanjang jauh-izinkan aku sebentar
di sini merubah sabit jadi purnama.
Sawahlunto, 2002
Label:
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006,
Sawahlunto
ASAP
Diposting oleh Unknown
debu
gelap menjemput kerinduan
sepanjang debaran rasa terkepung-terasing
asap kesepian.
Padang, 2002
Label:
Antologi Puisi,
Padang,
RIWAYAT: 1995-2006
PENGADUAN
Diposting oleh Unknown
merah
putih. Membagikan cinta dengan paksa
melahirkan sengketa. Orang-orang berdiang
pada bara-hujan tak mampu memadamkannya.
Padang, 2002
Label:
Antologi Puisi,
Padang,
RIWAYAT: 1995-2006
KAMAR
Diposting oleh Unknown
inilah
panggung
menciptakan pertunjukan sesuka hati
mencari kesalahan-mempertontonkan
kekuatan jadi penguasa tragedi maha dasyat
(aktor di sini suka jahil-berjiwa kerdil).
Aceh, 2002
Label:
Aceh,
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006
MENUAI API
Diposting oleh Unknown
memaknai
kemerdekaan
gerimis mengurung rahasia mimpi
melahirkan derita jadikan tuba-sakit-pilu
menyayat ruang pemikiran-merubah peradaban
jangan pagari hati dengan perseteruan. Menuai
jembatan kasih sayang-meski datang malam
di jiwa. Aku tak tinggal diam
api sunyi-menyala menyilaukan mata. Kesetiaan
berkalang maut. Ini rumah kuberi nama cinta
baik dan buruk kutulis di kalbu.
Padang, 2001
Label:
Antologi Puisi,
Padang,
RIWAYAT: 1995-2006
BUNGA API-BUNGA HUJAN
Diposting oleh Unknown
baju
perang
semestinya kita rusaki
agar tak memukuli dada-kening
sendiri. Ganti dengan pakaian silaturrahmi
kembangkan sayab-sambut salam dalam genggaman
erat. Biar sirna api di ruang kepala
hujankan jiwa.
Padang, 2001
Label:
Antologi Puisi,
Padang,
RIWAYAT: 1995-2006
CERITA: TANAH AIR-TANAH MATA
Diposting oleh Unknown
kadangkala hidup gumaman gebalau
di malam sunyi. Ingin sekali aku
menguburkan diri di tanah tumpah darah
tersebab tumpah air mata darah di tanah airku
(belukar dan kemenyan tumbuh berbunga di pusara).
Aceh, 2001
Label:
Aceh,
Antologi Puisi,
RIWAYAT: 1995-2006
BUNG: MENGENANGMU GERIMIS TEMPIAS DI SAJADAH
Diposting oleh Unknown
membuka lembaran dua puluhan
tetes darah masih hangat mewarnai sejarah
dalam segala warna-cuaca, pemuda berdiri
paling depan. Dada belia terbakar
membakar semangat berkobar
mengobarkan api dua puluh-api dua delapan-api empat lima
tumbanglah tatanan usang renyuh-runtuh-rubuh
o, betapa engkau di sambut dentuman
yang bukan mercon. Mengikhlaskan kesempatan
menyandang titel hidup gemerlapan.
Bung: apakah arti kemewahan di
atas penderitaan
apakah arti hidup-bila tak berarti sama saja mati
sebelum mati. Hidup berjaya atau mati sebagai
bunga bangsa dan agama.
Bung: telah kau titip bangsa dan negara ini
pada Soeharto; ia menggergaji bumi-bangun
istana pribadi tak mampu menerjemahkan peradaban.Bagi
Habibie; ia memberi ruang oportunis
untuk bermain-meruntuhkan kesatuan bangsa. Bersama
Gusdur; menyaksikan nusantara mengalirkan
darah dari saluran tak henti atasnama kekuasaan. Tjoet Nyak Mega;
mengumbar janji seperti biduan. Susilo Bambang
Yudhoyono; menjual cinta
bersama romantika masa silam, sementara
teroris mengerat negeri.
Bung! Bangsa yang besar
adalah bangsa yang pandai menghargai sejarah
tanpa pamrih-terlepas dari kurang dan lebih. Baca;
Aceh-Sriwijaya-Majapahit: Teuku Umar, Teungku Chik Di Tiro
Sisingamangaraja, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Patimura, Daoed Beureueh
Bung Karno, Hatta, Syahril, Hasan Tiro dan sejarah yang hanya tercatat di kepala
betapa setiap jengkal tanah
adalah ajang juang
adalah makam pahlawan
bercermin kami berbuat
tak ada kata jera dalam perjuangan
(mengenangmu: pilu-luka-nyeri tumpah di sajadah).
Padang, 2004
Label:
Antologi Puisi,
Padang,
RIWAYAT: 1995-2006
BUNGA API
Diposting oleh Unknown
jiwa
tenanglah jiwa
sebentar kita berjaga-janganlah tidur; mari
berangkat ke negeri yang memperjualbelikan
maut; Maluku-Ambon-Irian atau Aceh. Ayo
lebih jauh lagi ke pedalaman Pidie agar tambah
jauh dari kehidupan
di sana perubahan terang dan gelap meniadakan
keragaman dari ketiadaan.
jiwa tenanglah jiwa
mari berbenah pulang
menemukan kilatan bunga api
dari neraka.
Padanpanjang, 2001
PULANG
Diposting oleh Unknown
-bagi penyair Mustafa Ismail
sudah waktunya kita pulang. Mengetuk
pintu menata pekarangan rumah dengan cinta
gerimis masih mengurung perjalanan.
sudah waktunya kita pulang. Mengusir
pipit sedang makan padi muda agar tak menghitung
nama-nama di koran pagi dalam warung kopi. Lalu
menggantikan dengan pertunjukan seudati selepas panen.
sudah waktunya kita pulang. Rakyat
di kampung menjawab keraguan sendirian. Kita
harus menggantikan warna hitam jadi putih antar ke pintu surga
(mari jemput waktu agar abadi segala kisah).
Padang, 2001
Label:
Antologi Puisi,
Mustafa Ismail,
Padang,
Penyair,
RIWAYAT: 1995-2006
REKOMENDASI
Diposting oleh Unknown
kulalui
malam sejuta nikmat
ketika gerimis tempias ke sajadah. Mencair
juga sepi dipucuk rambut-bila gincu menggores
langit jatuhkan bulan bersanding di baris kening
membungkus luka dengan kertas baru. Kita
menulis kata demi kata diatasnya.
kulalui malam sejuta nikmat
dimatamu aku hanya sebiji kemiri. Mencari
catatan rekomendasi dari birokrasi matahari.
Padang, 2001
Label:
Antologi Puisi,
Padang,
RIWAYAT: 1995-2006,
Sastra