Ini Aku Tuliskan Riwayatku-mu

Diposting oleh Unknown on Sabtu, 03 Desember 2011

'Riwayat' tertulis dalam tiga periode. Periode I tahun 1980-1989. Periode II Tahun 1990-1994 dan Periode III Tahun 1995-2006. Riwayat yang terkumpul dalam antologi ini berangkat dari realita sosial menjadi realita sastra.

Riwayat ini bisa jadi milik pembaca yang hidup dan tumbuh dilingkungan masyarakat. Riwayat ini bisa jadi hanya milik penulis yang terekam lewat pengalaman emperik menjadi realita sastra. Selebihnya siapa dalam hidup ini yang tidak memiliki riwayat, semua kita pasti ada masa lalu. Terlepas masa lalu itu berangkat dengan manis atau pahit. Aku mencatat segala manis dan pahit, sakit dan senang, sedih dan bahagia-milikku-mu-kau-kami-kita-kalian agar menjadi catatan yang abadi untuk diwariskan kepada anak dan cucu.

Aku juga tidak lupa kenangan di Gayo-sebab peristiwa bahkan kata jadi syair dalam puisiku berawal dari sana bersama ibu guru Bidang Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Takengon-Aceh Tengah. Lalu Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Beureunuen-Pidie, di kampung asalku juga membuat riwayat ini semakin lengkap-di sini aku coba berkontemplasi dengan diri. Aku teruskan pendidikan di FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia yang mengantarkanku pada pertemuan/dialog sastra serta bermuara pada diskusi sastra ‘warung kopi’ di kantin Cempala UNSYIAH sekaligus mendirikan komunitas seni bernama ‘Sanggar Cempala Karya’ Banda Aceh yang membuat aku bersentuhan dengan seniman-seniman Aceh. Pada tahun 1997 aku hijrah ke Padangpanjang-Sumatera Barat sekaligus mendirikan Komunitas Seni ‘Kuflet’ yang sampai sekarang aku pimpin, di negeri ini aku juga bergumul pimikiran dengan seniman-seniman Minangkabau. Semuanya aku khabarkan dalam ‘riwayat’ sebagai perjalanan budaya.

Aku catatkan juga peristiwa yang mengurung ruang pemikiran, peristiwa yang sangat banyak menguras airmata—luka-hati dan darah bagi siapa saja yang merindui cinta damai. Hingga bermuara pada 26 Desember 2004; gempa dengan kekuatan 8,9 Skala Richter-klimaksnya Aceh disapu air raya bernama Tsunami sehingga tempat-tempat kenanganku-mu-kita-kami-kalian hilang dari peta. Aku dengar Penyair/teaterawan Aceh Maskirbi dan sekeluarga hilang dalam bala itu, sementara sekitar tanggal 24 Desember 2004, tepatnya hari Jum’at sekitar pukul 9.00 saya bersama Maskirbi sempat minum kopi pancung (kopi yang isinya setengah gelas) di Kantin Seniman Taman Budaya Aceh (TBA), dan kami punya niat suci untuk melaksanakan pertunjukan kesenian/pameran dalam tajuk “Jak Saweue Gampoeng” di Taman Budaya Aceh oleh masyarakat Aceh yang berdomisili di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang. Kebetulan adik-adik mahasiswa mempercayai saya untuk mengurus rencana kegiatan itu dengan pihak Taman Budaya Aceh yang diwakili Maskirbi, rencana itu sebenarnya sudah pasti tapi apa hendak di kata musibah gempa dan Tsunami membuat rencana itu batal. Begitu juga dengan penyair/teaterawan M.Nurgani Asyik sekeluarga yang berdomisili di Punge-hilang dalam peristiwa itu. Bang Nur begitu aku sering memanggilnya-beliau salah seorang seniman Aceh yang sangat dekat dengan saya, kemana-mana kami sering berdua (Sebelum aku hijrah ke Kota Padangpanjang-Sumatera Barat). Setiap aku pulang ke Aceh selalu saja menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya. Lalu pada tanggal 23 Desember 2004, aku tilpun Versevenny (Pelukis Wanita Aceh) yang juga Istrinya Nurgani Asyik-waktu itu baru kutahu Bang Nur dalam kondisi Stroke-Langsung saja aku pacu motor menuju Punge ke rumah bang Nur. Jumpa pak Hasan Basri (mertua bang Nur) yang juga dalam kondisi sakit-sakitan, Versevenny-kami banyak cerita dan M.Nurgani Asyik hanya memandangku dengan mata nanar. Aku ajak bang Nur berkeliling Ulee Lhee-Ulee Kareng-Darussalam tempat yang penuh nostalgia; tempat-tempat ini sering menjadi tempat diskusi-latihan alam (teater)-Latihan baca puisi dan latihan mencipta puisi (bersama adik-adik Sanggar Cempala Karya Banda Aceh-Nurgani Asyik juga sering saya ikutkan, sebab beliau adalah penasehat Sanggar) yang saya pimpin. Terkadang Bang Nur Almarhum berkaca-kaca matanya ketika aku singgah ditempat yang membuat kenangannya berbicara. Hari Kamis itu sengaja aku tunggu shanset turun di tepi Pantai Ulee Lhee sambil minum kopi dan memasukkan kacang tojin ke dalam kopi pancong hangat itu. Begitulah kebiasaan kami kalau sudah bertemu lalu berteriak saling membacakan puisi-puisi terbaru. Ada rasa haru dimata Bang Nur ketika beliau tahu aku sudah diangkat jadi Dosen Teater di STSI Padangpanjang. Sementara dengan Versevenny (pelukis wanita Aceh) ada yang belum terjawab-rencana melaksanakan kerjasama pertunjukan teater-perupa dalam tajuk ferpormance art “instalasi patung’. Begitulah kenangan yang tersisa dengan tiga seniman Aceh. Itupun tertuang dalam riwayat-kehilangan mereka sama pilunya hatiku dengan hilangnya sepupuku dalam gempa dan tsunami. Sekarangpun sering aku minum kopi lalu memasukkan kacang tojin ke dalam gelas kopi-untuk mengenangmu M.Nurgani Asyik.

Begitulah riwayat-aku coba catat segalanya di sini.
Salam kreatif penulis

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar