Home » Archives for Desember 2011
MEMOTRET DIRI
Diposting oleh Unknown on Kamis, 08 Desember 2011
LEWAT TENGAH MALAM
Diposting oleh Unknown on Rabu, 07 Desember 2011
AKULAH DEBU
Diposting oleh Unknown
KUSAKSIKAN BULAN SEPENGGAL
Diposting oleh Unknown on Selasa, 06 Desember 2011
MU
Diposting oleh Unknown on Senin, 05 Desember 2011
RASA
Diposting oleh Unknown
kalaupun ini bernama sunyi, adikku
ketika angin menjilat ujung rambutmu
tetap datang aku walau penuh luka
lalu sama-sama menyulam jadikan rindu
menempel di dinding hati agar mudah mengingat kembali.
Banda Aceh, 1993
BLOK M
Diposting oleh Unknown
matahari membakar ubun-ubun
bulan menari-nari di atas kepala
semuanya diatasnamakan angka
O, Allah di sini banyak kemudi patah
terombang-ambing di lautan pencaharian.
Jakarta, 1993
RINDU I
Diposting oleh Unknown
SABAR
Diposting oleh Unknown
pada laut. Bersedia menerima sampah
segaja di buang ke dasar hati.
telah terlalu sering belajar bersabar
pada ombak. Setia memukul pantai
terkadang pasir terjilati bersama hempasan riak
entah kapan sampai pada garis tuju.
Banda Aceh, 1993
CATATAN KAKI
Diposting oleh Unknown on Minggu, 04 Desember 2011
ingin kuceritakan luka kita
tiba-tiba ingat aku tentang laut
menerima tumpahan kecewa ke perutnya
lalu lahir kesabaran abadi.
dari sudut yang paling sunyi
ingin kuceritakan tentang buah cinta
tergadai diatasnamakan peradaban kampung
segumpal hati mati
tajam pisau tikam rindu jadi sepi.
Banda Aceh, 1993
CATATAN KAKI
Diposting oleh Unknown
ingin kuceritakan luka kita
tiba-tiba ingat aku tentang laut
menerima tumpahan kecewa ke perutnya
lalu lahir kesabaran abadi.
dari sudut yang paling sunyi
ingin kuceritakan tentang buah cinta
tergadai diatasnamakan peradaban kampung
segumpal hati mati
tajam pisau tikam rindu jadi sepi.
Banda Aceh, 1993
CATATAN KAKI
Diposting oleh Unknown
ingin kuceritakan luka kita
tiba-tiba ingat aku tentang laut
menerima tumpahan kecewa ke perutnya
lalu lahir kesabaran abadi.
dari sudut yang paling sunyi
ingin kuceritakan tentang buah cinta
tergadai diatasnamakan peradaban kampung
segumpal hati mati
tajam pisau tikam rindu jadi sepi.
Banda Aceh, 1993
DESIR ANGIN
Diposting oleh Unknown
belai mesra kecil hatiku kecil
antar sepi ke pucuk-pucuk daun
(menjanjikan kesetiaan berlabuh di muara hati).
Banda Aceh/CeKa, 1993
PEREMPUAN II
Diposting oleh Unknown
TUMPAH SEPIKU DALAM LAUT
Diposting oleh Unknown
ketika mengingatmu menggalaukan jiwa
hati kecil berkejaran bersama riak
mengajari aku bersabar
tentang kesetiaan yang hakiki.
Banda Aceh/CeKa, 1993
PERJALANAN MALAM
Diposting oleh Unknown
BIARLAH
Diposting oleh Unknown
CINTA
Diposting oleh Unknown
entah bagaimana menerjemahkan kesucian
terhidang dari nikmatnya sakit
bungkus gelisah
obati luka batin
antar hati keperkuburan rindu
lewat setetes air jatuh dari keningmu.
Banda Aceh, 1993
PERTEMUAN
Diposting oleh Unknown
-bagi Titin Calon Istriku
krueng peusangan menebar segala rindu
mempertemukan Malem Dewa dengan Bensu puteri
izab kabulpun berlaku di gubuk Mak Ni tua
negeri antara di goyang canang semalam suntuk.
krueng peusangan menebarkan rindu
kabut beruntai seperti rambut sang puteri
mengelus-elus dada telanjang.
krueng peusangan mengantarkan rindu
telah pula kukabarkan pada leluhur
tentang tulang rusuk telah kutemukan
kutaburkan harum renggali dipelaminan
agar perjalanan waktu menjadi catatan kebudayaan.
Takengon, 1992
SENYUM BULAN
Diposting oleh Unknown
-kepada pelukis Versevenny
ada gundah berombak di dada
lambungkan harap pada sepucuk hati
tumpahkan sekian resah-gauli gelisah.
ada gundah berombak di dada
tiang mana ikatkan tali
biar kapal dapat merapat melabuhkan rasa
pendam dalam laut nurani.
ada gundah berombak di dada
ketika terik hari bergasing atas kepala
O, jangan biarkan gerimis tempias ke wajah
O, jangan biarkan nyeri membungkus luka
(mari jemput waktu lewat senyum di kening bulan).
Banda Aceh, 1992
SEPUCUK SURAT DARI BUNDA KUTERIMA TADI PAGI KETIKA GERIMIS JATUH DI ATAS GUBUKKU
Diposting oleh Unknown
CELOTEH KECIL MANUSIA KECIL
Diposting oleh Unknown on Sabtu, 03 Desember 2011
CELOTEH KECIL MANUSIA KECIL
belum dapat-dapat merebut bulan
lari dari ketiak ibu. Sembunyi
di balik ketiak bapaknya
sementara anak sampan menghempas ombak
dalam malam-malam buta tanpa bulan.
Banda Aceh/CeKa, 1992
Sulaiman Juned
DI ALTARMU KUTARAJA KUTEMUI CINTA
Diposting oleh Unknown
DIALTARMU KUTARAJA KUTEMUI CINTA
dialtarmu Kutaraja kutemui cinta
ketika memandang lekat gunongan
peninggalan purba
mengajarkan kasih sayang
seorang hamba.
dialtarmu Kutaraja kutemui cinta
ketika mesjid Baiturrahman mengalunkan kalam-Mu
O, Allah betapa agung tanah Iskandar Muda
mengajarkan kejujuran-keadilan dan kesetiaan
hatikupun bermesraan didalamnya.
Banda Aceh, 1992
Sulaiman Juned
PELUKLAH AKU WAHAI KEKASIH
Diposting oleh Unknown
PELUKLAH AKU WAHAI KEKASIH
peluk mesrai aku wahai kekasih
yang berjalan sendiri bersama kelam
tanpa suluh di tangan, tanpa apa-apa
semuanya hitam melekat pada raga.
peluk mesrai aku wahai kekasih
yang menghempas ombak mengarungi samudera
tanpa nakhoda-tanpa petunjuk
kehaluan mana kemudi harus kuputar.
peluk mesrai aku wahai kekasih
dalam alam saban hari terjerang kehausan
seperti hidup sesungguhnya bukan lagi hidup
laksana mati sebelum dimatikan.
peluk mesrai aku wahai kekasih
agar dapat hidup lebih mesra di negeri lain
negeri yang dimeriahkan tetari bidadari
dan mengalungkan bunga sebagai janji bakti.
peluk mesrai aku wahai kekasih
agar aku tak lagi melihat perseteruan
agar aku tak lagi menyaksikan peperangan
yang mengalirkan air mata, darah dan dendam
(O, Allah damaikanlah hati saudaraku dari kebencian)
Banda Aceh/CeKa, 1992
Sulaiman Juned
CATATAN RINDU SEORANG LELAKI
Diposting oleh Unknown
CATATAN RINDU SEORANG LELAKI
perjalanan malam terikat waktu, manis
seperti Adam cintakan Hawa. Rela
memamah khuldi untuk sebuah kesetiaan.
perjalanan matahari terikat waktu, manis
membuat kaki langit kehilangan tepi. Entah
kapan sampai pada garis tuju.
Banda Aceh/CeKa, 1992
Sulaiman Juned
ZIARAH
Diposting oleh Unknown
ZIARAH
-di pusara Abi tercinta
ada angin
tertinggal di atas tanah tumpukan
kadang meruncing menembus dada
bila mengingat peristiwa lalu.
Usi Dayah, 1992
Sulaiman Juned
HARUSKAH KUGADAIKAN LADANGKU
Diposting oleh Unknown
HARUSKAH KUGADAIKAN LADANGKU
bergumul debu hitam di terik matahari
garis-garis cinta hangus terbakar
rupa tersebar dipepohonan mati
berapa ku hargai sepetak ladangku.
Banda Aceh, 1992
Sulaiman Juned
KUTENGADAHKAN ISI KALBU
Diposting oleh Unknown
KUTENGADAHKAN ISI KALBU
biar ini kalbu memangut rindu
mengirim setiap luka biru. Tak mengada-ada
biarlah setiap lembah terjamah menyimpan
sekian rasa. Belum ada yang memberi madu
semuanya menumpahkan duka.
Banda Aceh, 1992
Sulaiman Juned
TUHAN TERIMALAH DAKU
Diposting oleh Unknown
TUHAN TERIMALAH DAKU
air suci
basuh muka dari nanah
aku tadah
telapak tangan menemui-Mu.
Banda Aceh/CeKa, 1991
Sulaiman Juned
BEUREUNUEN KOTA KECIL ITU
Diposting oleh Unknown
BEUREUNUEN KOTA KECIL ITU
sibuk
menata tubuh bernanah
di tepi krueng baranom.
Beureunuen, 1991
Sulaiman Juned
MEDITASI
Diposting oleh Unknown
MEDITASI
usah resah engkau hatiku
sebentar lagi pagi menjelang
usah gundah duhai kalbuku
sabit pasti berubah purnama. Bersabarlah
seperti laut menerima tumpahan dengki.
Banda Aceh/CeKa, 1991
Sulailaiman Juned
PADA BEKAS REL KERETA API
Diposting oleh Unknown
PADA BEKAS REL KERETA API
sepasang insan
menggadaikan negeri atas nama
cinta.
Banda Aceh/CeKa, 1991
Sulaiman Juned
PAHAMILAH KEKASIH
Diposting oleh Unknown
PAHAMILAH KEKASIH
pahamilah getar rumput sepanjang alis
matamu. Menjanjikan keikhlasan daun-daun
tersenyum di tampar angin-jerit musim
gugur dari rahasia langit. Pahamilah
kesepian bukan milik kita.
Banda Aceh/CeKa, 1991
Sulaiman Juned
TITIN; SEBUAH MAWAR RINDU MEWANGI
Diposting oleh Unknown
TITIN; SEBUAH MAWAR RINDU MEWANGI
belum dapat-dapat menyergap wangi itu
telah pula dikembalikan pada cerita usang
mengharuskan buka jendela luka
adinda,
angin selalu setia mendoidangkan jerat-jerat rindu.
Banda Aceh/CeKa, 1991
Sulaiman Juned
Diposting oleh Unknown
BULAN
ini kalbu rindu rembulan
bertengger di atap rumah tetangga
meremas kata-merekah kasih
sementara di pucuk cemara
ada camar menyeruak kepak mengantar rasa
Ohoi! Mari tabuh benih agar bertebar harap.
Banda Aceh/CeKa, 1991
Sulaiman Juned
LEBARAN MALAM ITU
Diposting oleh Unknown
LEBARAN MALAM ITU
setiap sudut takbir menggema
di meunasah beratap rumbia canangpun bertalu
semua orang harus menanggalkan permusuhan
separah apapun bentuk luka pernah di perbuat;
mari kita ikat pada tiang silaturrahmi
bulanpun menari-nari di atas perahu
lebaran malam itu.
Takengon/CeKa, 1412 H.
Sulaiman Juned
DI MEUNASAH TUA AKU BERTADARUS
Diposting oleh Unknown
DI MEUNASAH TUA AKU BERTADARUS
ini malam
adalah juga malam sebelumnya
duduk bersimpuh dan bertadarus
berjuz-juz lafalkan ayat-Mu
menadah makrifat-Mu
aku semakin kecil dan kerdil dihadapan-Mu.
ini malam
tak habis-habis kueja nama-Mu
dalam ratebku semalam suntuk
di Meunasah tua.
lain malam
adalah juga malam sebelumnya
di Meunasah tua beratap rumbia
sebayaku mengaungkan puja-puji
seperti juga aku:
Alhamdulillah
Laillahaillallah
Allahuakbar
malam itu
meunasah tua ketika kecilku dulu
mengeja juz Amma
menghafal Al-Qur’an
meneliti Kitab Kuning
mengikat batin.
meunasah tua
aku rindu bersamamu lagi
aku rindu Petua Syik berkutbah lagi
aku rindu melafal lagi nama-nama-Mu
Allah ya Allah-Allah ya Allah.
Usi Dayah 17 Ramadhan 1412 H.
Sulaiman Juned
SENANDUNG KECIL BUAT TITIN
Diposting oleh Unknown
SENANDUNG KECIL BUAT TITIN
telah kita ukir sebuah kesetiaan
pada pasir kuburkan rindu hati
berbondong-bondong janji
kita ikat pada waktu tak henti
: Kapan pelaminan terisi.
Banda Aceh/CeKa, 1991
Sulaiman Juned
KEPUTUSAN
Diposting oleh Unknown
KEPUTUSAN
-bagi penyair-penyair Aceh
yang menemui kebuntuan
dalam mengepak sayap berderap
lalu sepakat pada perjanjian
anak sampan itu; semestinya ditenggelamkan
biar terdampar di pantai tak bertuan.
Banda Aceh/CeKa, 1991
Sulaiman Juned
PERKAWINAN
Diposting oleh Unknown
PERKAWINAN
-kepada penyair Nurdin F. Joes
Allah telah menyaksikan
lewat perantara penghulu
sampailah pada pelaminan
menyandingkan anak-anak rindu. Itu tali
mengikat serat serabut kalbu
meniti sekian kasih. Itu tali
kuat ikatannya pada dermaga
agar tak goyang di hempas ombak
biar wangi mawar semerbak melintasi
negeri leluhur-menjanjikan sekian cinta
(perkawinan catatkan lewat untaian mutu manikam).
Banda Aceh/CeKa, 1991
Sulaiman Juned
LAPORAN GADUH SEORANG BEKAS MAHASISWA DI KUBURAN BEKAS AKTIVIS MAHASISWA
Diposting oleh Unknown
LAPORAN GADUH
SEORANG BEKAS MAHASISWA
DI KUBURAN BEKAS AKTIVIS MAHASISWA
kawan!
susah hidup dikotamu
segala hati dikuasai kekuasaan.
Banda Aceh, 1990
Sulaiman Juned
SEBUAH CATATAN
Diposting oleh Unknown
SEBUAH CATATAN
-bagi Titin Calon Istriku
catatan bercerita tentang keberadaan
membumbung dalam sukma. Senja
itu bersamamu telah banyak yang terpahat
di hati. Moga bukan mimpi.
Banda Aceh/ CeKa, 1990
Sulaiman Juned
MERAMPAS SUBUH
Diposting oleh Unknown
MERAMPAS SUBUH
itu subuh koyak-monyak di rampas
dari tangan ke tangan. Hitam
tergambar pada wajah yang tak mengerti
mengapa diterlantarkan.
Banda Aceh/CeKa, 1990
Sulaiman Juned
SATU PENUNDAAN LAGI
Diposting oleh Unknown
SATU PENUNDAAN LAGI
tak bisa menancapkan rindu
ladang berdebu. Sawah
kering dan terpecah-pecah
terpaksa kita tak bisa menikah lagi.
Banda Aceh/CeKa, 1990
Sulaiman Juned
LUKA I
Diposting oleh Unknown
LUKA I
malam membuat lupa segalanya
karena bulan tembaga
tertusuk runcing ilalang.
Banda Aceh/CeKa, 1990
Sulaiman Juned
MENJEMPUT
Diposting oleh Unknown
MENJEMPUT
ini laut tak bertepi
entah angin apa- riak apa-ombak apa
tak kuketahui. Semua hilang ingatku
yang ada melambai-lambai dari jauh
sebuah angin-sejentik rasa-segumpal rindu
dari jauh memandang jauh mendekat segala hati
itu laut terarungi lewat badai jemput amukan kalbu.
Banda Aceh, 1990
Sulaiman Juned
NYANYIAN LUKA
Diposting oleh Unknown
NYANYIAN LUKA
I
berpuluh-puluh rencong
berikan salam hadirkan malam
bulan tembaga tertusuk runcing ilalang.
II
berpuluh-puluh rencong hujani dadaku
tikam diam jadikan diam
tikam rindu jadikan diam
tikam sepi jadikan diam
tikam hati jadikan diam
diam berdarah diam.
III
berpuluh-puluh rencong tikam diam
antar hati keperkuburan waktu
mari gendong luka agar terasa nikmat.
Banda Aceh, 1990
Sulaiman Juned
PEREMPUAN I
Diposting oleh Unknown
PEREMPUAN I
-sebuah kenangan di Pantai Mepar
adalah pengantin yang di tanam batu perkawinan
memandang ke belakang menjilat denting canang
tak lagi menyandingkan ikan-ikan di tepi Laut Tawar.
Takengon/CeKa, 1990
Sulaiman Juned
LAUT TAWAR
Diposting oleh Unknown
LAUT TAWAR
tak ada lagi cerita puteri Bensu dan Malem Dewa
juga tentang Banta Ahmad yang jadi batu
tak juga Pukes yang menyesalÿÿdiriÿÿengan tangis
tetapi coba tenggelamkan lukaku yang kian menjadi.
Takengon/CeKa, 1990
Sulaiman Juned
Diposting oleh Unknown
ABA-ABA
bersiaplah!
gali liang, kuburkan luka
di tanah yang memerah.
Beureunuen, 1989
LEBARAN DI RANTAU
Diposting oleh Unknown
LEBARAN DI RANTAU
itu malam petasan dan mercon diledakkan
degup jantung melambai-lambai
mengikuti nyanyian takbir;
Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar walillahilhamdz.
ya Allah aku hilang di telan keramaian
satu-satu terbayang keluarga di kampung
bapak duduk bersimpuh sambil memilin rokok daun
ibu menyulam baju hadiah lebaran untuk cucu
Idah adikku manis menangis bila tak dibelikan sepatu
O, lebaran di rantau semakin kencang degup jantung
(kutumpahkan rindu ke laut sepi).
Banda Aceh, 1989
Sulaiman Juned
KEMERDEKAAN: KESAKSIAN SEORANG PENYAIR
Diposting oleh Unknown
KEMERDEKAAN: KESAKSIAN SEORANG PENYAIR
kemerdekaan adalah
ketika kita bebas berbicara
tentang hak yang berhak
ketika kita bebas dari pasungan
tidak sembunyi dari ketiak ibu
dan lari dalam ketiak bapak.
kita sekarang mengeja kemerdekaan
dengan gedung mewah menyundul langit
bersama perempuan-perempuan dipanti pijat
perekonomian melarat, kemiskinan sekarat
kita sekarang membaca kemerdekaan
dengan luka. Darah dan laras senapan-menyerahkan
ini punya nyawa-memberikan ini punya harta
(kita belum mampu mengartikan malam).
ibu, aku menyaksikan air mata darah tertumpah
pada dada memerah. Aku menyaksikan para badut
menggenggam niat busuk-melakonkan pesta canda mengobral
gelisah. Segala perencanaan tersangkut di kantong jas sapari
kolam susu negeriku terkuras habis-membuat istana pribadi
sambil menghitung kekayaan hasil korupsi-naik haji hasil
kolusi-memperbanyak isteri hasil manipulasi;
ibu, berpuluh-puluh tahun kupahat namamu
pada air mengalir
pada batu membeku
pada hati membisu
dan ombak senantiasa menghapusnya.
ibu, subuh berkabut tersangkut di pucuk rambut
ada luka teramat menyiksa tak teraba. Bunga-bunga
bangsa berkunang airmatanya-terpaksa diyatimkan. Kekuasaan bermata
gelap-memaknai keadilan dan akal sehat; mengapa ledakan peluru
menghukumnya-kuburan sebagai penjara seumur hidup
inilah kesaksian seorang penyair kecil. Kesaksian peradaban menuntun perubahan
(Indonesia! Dari sudut manakah wajahmu kupandang tak jemu)
Aceh, 1989
SURAT BEKAS MAHASISWA KEPADA AKTIVIS MAHASISWA
Diposting oleh Unknown
SURAT BEKAS MAHASISWA KEPADA AKTIVIS MAHASISWA
-bagi aktivis mahasiswa UNSYIAH
inilah suratku
kukirim kepada yang mengaku aktivis
catatan pada selembar daun kering di tangan
kukirim juga kepada saudaraku yang tertindas peradaban
kota. Hingga bulan pecah berdarah
turun kepelukan bunda, matahari tersangkut di ujung
ketidakadilan.
inilah suratku
kukirim kepada yang mengaku aktivis
melantunkan nyanyian dan koor panjang tentang keadilan
katanya berani membela hak yang berhak. Membela orang-orang
terjajah. Kejujuran berdiri atas nama
keadilan.
inilah suratku
kukirim kepada yang mengaku aktivis
mari simak-nikmati manisnya gula-gula. Agar tak sakit
bila merasakan luka-kemarin ada yang di gusur;
di ganyang-di giring seperti kelinci dikeluarkan dari kandang
kemarin ada yang meratap-menangisi nasib tersebab tak tahu
kemana menggantungkan harap, maka:
jadilah langit sebagai atap
jadilah bumi sebagai lantai
jadilah gunung sebagai dinding
jadilah angin sebagai selimut
mengantar mimpi tidur malam.
kukirim kepada yang mengaku aktivis
mana ceritamu beterbangan seperti burung walet
mengantar kedamaian. Mana ceritamu menembus awan
seperti anak panah melesat dari busur jatuhkan bintang-gemintang
menjanjikan seribu harap direlung nurani rakyat. Wahai
engkau yang mengaku aktivis
dipekarangan rumahmu ada seulanga mengharumkan seisi rumah
diberanda kau duduk menikmati sepotong kue dan segelas kopi
sementara dipelupuk mata-jerit tangis saudaramu bergelimang
bersama darah. Mereka tak lagi berumah-entah diselokan mana
merajut mimpi-terasing di tanah sendiri-hati tersayat
(Berapa harga kelicikan-kebiadabanmu dapat kubeli).
Banda Aceh/CeKa, 1989
IKRAR PARA PENGANGGUR
Diposting oleh Unknown
IKRAR PARA PENGANGGUR
lepaskan belenggu pengangguran
menjerat jiwa semakin parah
melahirkan wajah-wajah kepalsuan
pembawa wabah penyakit menular.
kami dari sekian penganggur
kumpulan rakyat jelata terbuang
tersisih dalam kemelut zaman
dininabobokkan janji-janji semu
terombang-ambing masa menikam.
kami selaksa penganggur
terdampar diemper-emper pertokoan
terkurung dalam tong-tong sampah
terkuliti kancah debu nista
membawa rasa kadangkala dosa.
kami sah-sah saja disebut gelandangan
penganggur tak beratap-tak bertepi
tak hendak berpacu dalam penyelewengan
kami ikhlas saja dicap-cip-copkan
dengan nama orang-orang tak berguna
tapi;
bila kebenaran kami dapatkan, kenyanglah kami
bila kebenaran diselewengkan, laparlah kami
o, terkutuklah kau jahanam
yang membuat tangan pendek menjadi panjang
yang membuat air mata membasahi jalan berliku
yang membuat lorong putih menjadi hitam
yang membuat hati nurani menjadi iri
yang membuat surga jadi neraka
yang menghadirkan berjuta-juta nafas kepalsuan
“lepaskan belenggu pengangguran”
Itulah ikrar kami.
(Jakarta-Banda Aceh, 1989)
Sulaiman Juned
SETETES RINDU
Diposting oleh Unknown
SETETES RINDU
ranting cemara bergerak
melantunkan syair kerinduan
rindu kian terpendam
pada akar menghitam. Senja itu
ranting cemara menggeliat
membenam diri berpaut. Ombak
bercumbu seperti dulu masih
membawa malam. Suluh itu tak
datang lagi, wahai!
Sarah-Aceh, 1989
Sulaiman Juned
LANGKAH-JIWA-SUNYI
Diposting oleh Unknown
LANGKAH-JIWA-SUNYI
I
hujan membasahi alis
bertengger indah di kening
kekasih. Dara manis mengalunkan syair;
kembalilah kanda.
II
jiwa bertalu-talu
bagai gendang ditabuhkan
bergolak memecah tebing
luka bernanah.
III
malam mati
mencari jejak diri
di telan bayang.
Banda Aceh, 1989
Sulaiman Juned
CEMPALA
Diposting oleh Unknown
CEMPALA
cericit cempala berkicau
bulu halus mulai tumbuh
mengepak sayap –tinggi terbang
menentang badai meraih cita.
walau bulu sekerat masih
cempala tetap menyeruak, wahai!
menentang segala yang menghadang.
Banda Aceh, 1989
Sulaiman Juned
TIKUS
Diposting oleh Unknown
TIKUS
mentari rebah
memeluk bumi. Malam
menjelma hadirkan sunyi
tikus beraksi mengerat laci
melenyapkan segala isi
membuat istana pribadi.
Banda Aceh, 1989
Sulaiman Juned
AJAL
Diposting oleh Unknown
AJAL
tiada lagi yang tersisa
dalam denyut nadi sekalipun
semua terpahat
di dinding kemuning senja.
Banda Aceh, 1989
Sulaiman Juned
KEMATIAN
Diposting oleh Unknown
KEMATIAN
ah!
sudah siapkah
kita melangkah menghadap Ilahi.
Banda Aceh, 1989
Sulaiman Juned
BENING MATAMU- NADA
Diposting oleh Unknown
BENING MATAMU- NADA
simpan berjuta rahasia
dibalik indahnya bola mata
coba kuakkan berlaksa gita
dari sana.
jangan ragu suatu saat bulan cerita
tentang arti kehidupan
buka rahasia
yang tersimpan di bening matamu.
Darussalam, 1989
Sulaiman Juned
TAUBAT NASUHA
Diposting oleh Unknown
TAUBAT NASUHA
di tikar sajadah
hati tenggelam dalam khusuk
untuk menemui-Nya
Allah
Allah
Allahuakbar.
Banda Aceh, 1989
Sulaiman Juned
SEMALAM DI PULAU KAPOK
Diposting oleh Unknown
SEMALAM DI PULAU KAPOK
I
angin-petir-hujan menemani
gigil. Menggigit bibir
jasad basah-tetap membimbing
menuntun renungan.
II
hujan belum reda
dingin menyucuk tulang
tak ada yang beranjak dari renungan malam
walau diri tak kuasa melangkah
seutas senyum tersungging
gelora jiwa menyatu. Di sini
aku mengenal diri begitu kecil dihadapan-Mu
Tuhan.
III
kabut membias turun di pasir putih
ombak bergulung bercumbu mesra
ada yang tertinggal di dalam jiwa
di tungku perapian segala tertumpah
kasih adalah indah-cinta adalah anugerah
(peliharalah setali kasih kita).
Lhoknga, 1989
Sulaiman Juned
PERPISAHAN DI TERMINAL STUEI
Diposting oleh Unknown
PERPISAHAN DI TERMINAL STUEI
I
debu berterbangan
menbawa berita duka.
II
terhenyak
klakson mobil
mengoyak hati
tak sempat berjabat tangan
tak sempat ucapkan selamat jalan
setetes air bening
mengalir di sela mata.
III
dalam sepi
seribu kunang-kunang terngiang kembali
seutas tikar-setali jangkar, kita
mengarungi masa remaja. Kudengar
kau bahagia
aku suka
perjalanan masih panjang
teruskan-teruskan kasih.
Seutuei Aceh, September 1989
Sulaiman Juned
NYANYIAN BAGI PEREMPUANKU
Diposting oleh Unknown
NYANYIAN BAGI PEREMPUANKU
deru ombak nyanyikan suara batin
tentang luka yang pernah ada
senja itu,
tercatatlah legenda cinta yang purba
jadi sejarah pada bebatuan
barangkali bulan tembagaku
lenyap di telan
kabut.
Banda Aceh, 1989
Sulaiman Juned
PELABUHAN KUTARAJA
Diposting oleh Unknown
PELABUHAN KUTARAJA
ombak bergulung
membawa berita duka
suara peluit kapal
mengoyakkan hati.
Krueng Raya, 1989
Sulaiman Juned
MENGHITUNG
Diposting oleh Unknown
MENGHITUNG
berulang kali menghitung
malam-pekat. Menusuk-nusuk
jiwa. Mengalir dendam
di kalbu-coba berkiblat memberi
arti. Belum juga sampai pada makna
hakiki-kapan langkah tua pecah
berdarah
mati.
Banda Aceh, 1988
PEREMPUAN SETENGAH BAYA
Diposting oleh Unknown
PEREMPUAN SETENGAH BAYA
perempuan setengah baya
menenteng keranjang, berbaju kumal
tersaruk-saruk di terminal
jemari kerut dan gemetar.
perempuan setengah baya
menenteng keranjang berbaju kumal
berlaksa kepedihan terukir di raut wajah
penderitaannya-derita dari sepotong kalbu
terkurung penjara kepapaan.
perempuan setengah baya
menenteng keranjang berbaju kumal
lukanya-luka perempuan desa
yang memecah tabir kepalsuan dunia
terkuliti kancah debu nista. Tersenyumlah
rembulan setia memberi secarik sinar
suatu ketika.
(Antara Lampung-Jakarta, 1987)
KO-PE-AN
Diposting oleh Unknown
KO-PE-AN
meringankan beban orang tua.
Banda Aceh, 1985
Sulaiman Juned
TRAGEDI KEHIDUPAN
Diposting oleh Unknown
TRAGEDI KEHIDUPAN
kalau ditanya kekasih
bilang aku telah pergi.
kalau ditanya polisi
bilang aku telah mati.
kalau ditanya emak
bilang aku pasti kembali.
Banda Aceh, 1980
Sulaiman Juned
KELAHIRAN LUKA ANAK ADAM
Diposting oleh Unknown
antologi puisi ‘riwayat’1
KELAHIRAN LUKA ANAK ADAM
telah berbondong-bondong luka di kalbu
antar tradisi warisan purba. Hitam
tertanam lekat di sisi jantung
kubur-leburkan kuburan dendam
mengalir jua lewat pori-pori
ohoi! Tak sanggup melawan titipan anak Adam.
Banda Aceh, 1980
Pengantar 'Riwayat' oleh Soediro Satoto
Diposting oleh Unknown
Soediro Satoto *)
Antologi puisi Riwayat ini ditulis oleh Sulaiman Juned. Meskipun orangnya tampak pendiam, low profile, ia seorang nasionalisme, moderat (bukan, separatisme, atau provokator) berkat hasil didikan kedua orang tuanya yang ketat berdisiplin, gigih, demokratis, dan religius sejak kecil. Ia pernah memakai nama samaran Soel’s J. Said Oesy ( ‘nunggak semi’ dengan nama ayahnya). ‘Juned kecil’ adalah anak kelima dari enam bersaudara buah cinta dari Abi/ayahnya, M. Juned Said, dengan Emak/ibunya, Juhari Hasan, (keduanya sudah almarhum dan almarhumah). Si Sulaiman Juned kecil tersebut dilahirkan di desa kecil Usi Dayah, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, Aceh, 12 Mei 1965. Jadi, ia adalah salah seorang warga asli Aceh menjadi warga Indonesia dan juga warga dunia yang menjadi saksi hidup sekaligus pelaku sejarah terjadinya konflik di Aceh, dan diperburuk dengan bencana alam gempa dengan skala ricther 8,9 dan tsunami yang telah banyak makan korban: baik waktu, fisik, psikis, finansial, material, fasilitas, nyawa, dan jika tidak segera diakhiri, juga generasi penerus penduduk Aceh (sekarang Nangroe Aceh Darussalam).
Penyair, teaterawan, dramawan yang wartawan dengan segudang pengalaman di berbagai profesi dan kegiatan seni, budaya, dan pariwisata, antara lain: sebagai jurnalis, baik sebagai penulis di berbagai surat kabar, majalah, maupun sebagai redaktur budaya atau editor majalah atau jurnal di berbagai kota. Di samping sebagai penulis puisi, naskah lakon, atau skenario sinetron, Soel (begitu rekan-rekan seniman Aceh dan Sumatera Barat memanggilnya) juga berperan sebagai aktor, sutradara – ia telah menyutradarai 102 pementasan teater di Taman Budaya Aceh dan di Sumatera Barat, serta melakukan pentas keliling: Aceh, Medan, Padang, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Palembang, Jakarta dan Bali. Bersama Sanggar Cempala Karya yang ikut didirikannya di Banda Aceh, serta bersama Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang yang dipimpinnya, Sulaiman Juned kecil sejak tahun 1995-1997 tiap-tiap bulan secara rutin mengisi acara sinetron di TVRI Stasiun Aceh. Sekali-kali di TVRI Stasiun Sumatera Barat dan Jakarta.
Ada beberapa faktor pendukung yang significant sehingga bisa menghantarkan Soel kecil menulis antologi puisi Riwayat. Antologi tersebut terdiri dari 132 puisi yang ditulis dalam kurun waktu tahun 1980-2006 (25/26 tahun). Dibagi ke dalam tiga periode. Periode I, Tahun 1980-1989; Periode II, Tahun 1990-1994; dan Periode III, Tahun 1995-2006. Periode I terdiri dari 22 buah puisi; Periode II 48 buah puisi; dan Periode III 62 buah puisi.
Beberpa faktor pendukung yang dimaksud di atas, antara lain: (1) Secara keseluruhan, antologi puisi Riwayat ini melukiskan respon seorang jurnalis, sastrawan (sebagai teaterawan, dramawan yang penyair) terhadap drama konflik beserta pahit manisnya kehidupan di Aceh sebelum, sesaat, dan sesudah ditandatangani MOU oleh kedua belah pihak yang berkonflik belum lama ini di Swis, dan berbagai bencana alam, termasuk tsunami, dan berbagai dampaknya. Sedangkan Sulaiman Juned kecil yang meriwayatkan peristiwa tersebut adalah warga dunia kelahiran Aceh. Kini ia sudah berkeluarga, beristri dan beranak hasil perkawinannya dengan dara idamannya Iswanti yang sering di sebut Titin, gadis peranakan Jawa-Aceh (Bapaknya dari Jawa Tengah, dan ibunya dari Aceh). Jadi, sebagai saksi dan pelaku sejarah, didukung oleh pengalamannya sebagai jurnalis, ia paham dengan berbagai permasalahan di Aceh; (2) Menurut pengakuannya, atas motivasi dan bimbingan Siti Aisyah, ibu gurunya di bidang studi Bahasa dan Sastra di SMP Negeri 3 Takengon, Aceh Tengah, tempat Sulaiman Juned kecil bersekolah, ia semakin PD (Percaya Diri) menulis puisi. Apalagi setelah puisinya, sejak tahun 80-an, dimuat di berbagai Koran harian dan majalah; (3) Di samping darah seni yang diturunkan dari Abua (abang/kakak dari ibunya) bernama Abdullah, yang biasa dipanggil Syech, Syech Lah Jarum Meueh, pemimpin grup tari Seudati, Sulaiman Juned kecil juga berpendidikan formal sebagai mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia pada Universitas Syiah Kuala Darussalam-Banda Aceh. (1985); (4) Setelah berhasil menyelesaikan studinya, ia juga menjadi dosen di almamaternya, STSI Padangpanjang di Jurusan Teater, di samping dosen luar biasa di berbagai Perguruan Tinggi dan guru SMA dalam bidang studi Bahasa, Sastra, dan Teater Indonesia; (5) Di samping mengajar, Juned kecil (Sulaiman Juned) juga sering sekali mengikuti seminar, diskusi, dan workshop, terutama yang berkaitan dengan dunia sastra (puisi, novel, drama) dan teater. Kini ia sedang mengikuti studi lanjut di Program Pascasarjana STSI Surakarta, Program Studi Penciptaan Seni, dengan Minat Utama Seni Teater.
Faktor-faktor tersebut di atas jelas mendukung hadirnya Antologi Puisi Riwayat yang diharapkan, bukan saja menambah wawasan dan apresiasi seni puisi, riwayat seorang anak bangsa beserta keluarganya di tengah-tengah konflik dan bencana tsunami, serta dampaknya bagi warga Aceh, tetapi juga menambah wawasan pembaca antologi puisi ini terhadap respon dan sikap penulis dalam menghadapi fakta sejarah tersebut dengan tabah, meskipun dendam masih tersisa, dan hatinya sangatlah luka. Terutama dalam hal masih adanya kekerasan, kelicikan, ketidakadilan, banyaknya pengangguran dan kematian sia-sia. Mengapa perbedaan dan konflik tidak diselesaikan dengan toleransi dan cinta kasih? Selamat dan mari kita nikmati karya puisi penyair asal Aceh ini yang layak kita mamah bersama. Salam!
Kartasura, 12 Mei 2006
Prasasti ‘ Riwayat’ Setangkai Mawar
Diposting oleh Unknown
Rindu Tertumpah hanya lewat ziarah-Yang kini sukmanya
tinggal bersamaku; mendampingiku
sepanjang usia.
Abangku-kakak-adikku:
Cupo Karmini-(Alm) Adoen Jubir-Cupo Miyah
Adoen Don dan Adoe Rasidah.
Selalu terkenang masa kecil kita yang diasuh dalam ajaran
cinta dan kasih sayang.
Bagi Titin Istriku:
Ini catatan hati. Persembahkan dengan segala rindu-cinta dan
do’a.
Bagi Soeryadarma Isman Anakku:
Ini catatan untuk kau ingat-kenang dalam hidup. Kuwariskan
padamu dalam meneruskan hidup dengan
cinta-damai
Bagi Prof. DR. Soediro Satoto
yang berkenan mengantar ‘riwayat’ menjadi cacatan
untuk dikenang-diingat-disimpan
jadi rembulan.
Bagi Aceh-Tanah Kelahiranku:
Ini aku tuliskan riwayatmu-ku-kita sebagai bukti aku ikut mendengar, merasakan
kepedihan Acehku yang tak pernah reda dari sengketa.
Ini Aku Tuliskan Riwayatku-mu
Diposting oleh Unknown
Riwayat ini bisa jadi milik pembaca yang hidup dan tumbuh dilingkungan masyarakat. Riwayat ini bisa jadi hanya milik penulis yang terekam lewat pengalaman emperik menjadi realita sastra. Selebihnya siapa dalam hidup ini yang tidak memiliki riwayat, semua kita pasti ada masa lalu. Terlepas masa lalu itu berangkat dengan manis atau pahit. Aku mencatat segala manis dan pahit, sakit dan senang, sedih dan bahagia-milikku-mu-kau-kami-kita-kalian agar menjadi catatan yang abadi untuk diwariskan kepada anak dan cucu.
Aku juga tidak lupa kenangan di Gayo-sebab peristiwa bahkan kata jadi syair dalam puisiku berawal dari sana bersama ibu guru Bidang Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Takengon-Aceh Tengah. Lalu Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Beureunuen-Pidie, di kampung asalku juga membuat riwayat ini semakin lengkap-di sini aku coba berkontemplasi dengan diri. Aku teruskan pendidikan di FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia yang mengantarkanku pada pertemuan/dialog sastra serta bermuara pada diskusi sastra ‘warung kopi’ di kantin Cempala UNSYIAH sekaligus mendirikan komunitas seni bernama ‘Sanggar Cempala Karya’ Banda Aceh yang membuat aku bersentuhan dengan seniman-seniman Aceh. Pada tahun 1997 aku hijrah ke Padangpanjang-Sumatera Barat sekaligus mendirikan Komunitas Seni ‘Kuflet’ yang sampai sekarang aku pimpin, di negeri ini aku juga bergumul pimikiran dengan seniman-seniman Minangkabau. Semuanya aku khabarkan dalam ‘riwayat’ sebagai perjalanan budaya.
Aku catatkan juga peristiwa yang mengurung ruang pemikiran, peristiwa yang sangat banyak menguras airmata—luka-hati dan darah bagi siapa saja yang merindui cinta damai. Hingga bermuara pada 26 Desember 2004; gempa dengan kekuatan 8,9 Skala Richter-klimaksnya Aceh disapu air raya bernama Tsunami sehingga tempat-tempat kenanganku-mu-kita-kami-kalian hilang dari peta. Aku dengar Penyair/teaterawan Aceh Maskirbi dan sekeluarga hilang dalam bala itu, sementara sekitar tanggal 24 Desember 2004, tepatnya hari Jum’at sekitar pukul 9.00 saya bersama Maskirbi sempat minum kopi pancung (kopi yang isinya setengah gelas) di Kantin Seniman Taman Budaya Aceh (TBA), dan kami punya niat suci untuk melaksanakan pertunjukan kesenian/pameran dalam tajuk “Jak Saweue Gampoeng” di Taman Budaya Aceh oleh masyarakat Aceh yang berdomisili di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang. Kebetulan adik-adik mahasiswa mempercayai saya untuk mengurus rencana kegiatan itu dengan pihak Taman Budaya Aceh yang diwakili Maskirbi, rencana itu sebenarnya sudah pasti tapi apa hendak di kata musibah gempa dan Tsunami membuat rencana itu batal. Begitu juga dengan penyair/teaterawan M.Nurgani Asyik sekeluarga yang berdomisili di Punge-hilang dalam peristiwa itu. Bang Nur begitu aku sering memanggilnya-beliau salah seorang seniman Aceh yang sangat dekat dengan saya, kemana-mana kami sering berdua (Sebelum aku hijrah ke Kota Padangpanjang-Sumatera Barat). Setiap aku pulang ke Aceh selalu saja menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya. Lalu pada tanggal 23 Desember 2004, aku tilpun Versevenny (Pelukis Wanita Aceh) yang juga Istrinya Nurgani Asyik-waktu itu baru kutahu Bang Nur dalam kondisi Stroke-Langsung saja aku pacu motor menuju Punge ke rumah bang Nur. Jumpa pak Hasan Basri (mertua bang Nur) yang juga dalam kondisi sakit-sakitan, Versevenny-kami banyak cerita dan M.Nurgani Asyik hanya memandangku dengan mata nanar. Aku ajak bang Nur berkeliling Ulee Lhee-Ulee Kareng-Darussalam tempat yang penuh nostalgia; tempat-tempat ini sering menjadi tempat diskusi-latihan alam (teater)-Latihan baca puisi dan latihan mencipta puisi (bersama adik-adik Sanggar Cempala Karya Banda Aceh-Nurgani Asyik juga sering saya ikutkan, sebab beliau adalah penasehat Sanggar) yang saya pimpin. Terkadang Bang Nur Almarhum berkaca-kaca matanya ketika aku singgah ditempat yang membuat kenangannya berbicara. Hari Kamis itu sengaja aku tunggu shanset turun di tepi Pantai Ulee Lhee sambil minum kopi dan memasukkan kacang tojin ke dalam kopi pancong hangat itu. Begitulah kebiasaan kami kalau sudah bertemu lalu berteriak saling membacakan puisi-puisi terbaru. Ada rasa haru dimata Bang Nur ketika beliau tahu aku sudah diangkat jadi Dosen Teater di STSI Padangpanjang. Sementara dengan Versevenny (pelukis wanita Aceh) ada yang belum terjawab-rencana melaksanakan kerjasama pertunjukan teater-perupa dalam tajuk ferpormance art “instalasi patung’. Begitulah kenangan yang tersisa dengan tiga seniman Aceh. Itupun tertuang dalam riwayat-kehilangan mereka sama pilunya hatiku dengan hilangnya sepupuku dalam gempa dan tsunami. Sekarangpun sering aku minum kopi lalu memasukkan kacang tojin ke dalam gelas kopi-untuk mengenangmu M.Nurgani Asyik.
Begitulah riwayat-aku coba catat segalanya di sini.
Salam kreatif penulis