MEMOTRET DIRI

Diposting oleh Unknown on Kamis, 08 Desember 2011



dalam sepi melihat diri


menerjemahkan isyarat-Mu



masih banyak khilafku



(aku hanya debu mampir di pipi).



Banda Aceh, 1994
More aboutMEMOTRET DIRI

LEWAT TENGAH MALAM

Diposting oleh Unknown on Rabu, 07 Desember 2011



ada, tak sampai dari malam


katakanlah tentang angin



berpusing atas ubun-ubun



menjilat pucuk rambut.




ada, tak sampai dari malam



katakanlah tentang api



membara dalam hati-membakar nurani jadi debu



(ternyata aku hanya pejalan malam tanpa suluh).



Banda Aceh, 1994


More aboutLEWAT TENGAH MALAM

AKULAH DEBU

Diposting oleh Unknown



akulah debu


sendiri merasakan sakit



tersebab banyak yang hilang



tak sanggup menjemput pulang



(sepi kembali kepelukan hati).



Banda Aceh, 1994
More aboutAKULAH DEBU

KUSAKSIKAN BULAN SEPENGGAL

Diposting oleh Unknown on Selasa, 06 Desember 2011



kusaksikan bulan sepenggal atas kepala

tangis pecah tertimpa daun cemara


jadikan tembang menemani perjalanan malam.




kusaksikan bulan sepenggal atas kepala



memandang langit sebagai langit



memanyungi keyatimanku



memandang bumi sebagai bumi



merasakan angin sejuk membelai pucuk rambut



melewati selat bernama kesedihan



seperti usapan jemari ibu.




kusaksikan bulan sepenggal atas kepala



aku rindu ayah; perjumpaan hanya lewat ziarah



hingga bersujud aku di kamar kebebasan



mata air turun di nurani menetes di sajadah



O, kecil hatiku kecil teriris pedih



seperti gerombolan awan kelabu



di urai angin buyar berkeping-keping



(kutumpahkan rindu ke gunung sepi).



Banda Aceh, 1994

More aboutKUSAKSIKAN BULAN SEPENGGAL

MU

Diposting oleh Unknown on Senin, 05 Desember 2011


bagaimana menerjemahkan sayang

bila gincu menggores langit

jatuhkan bulan bersanding dibaris kening.


bagaimana menerjemahkan sayang

bila rindu putus tak putus

tersangkut di gerai rambut

(jadilah aku debu melekat di kulit).

Banda Aceh, 1994
More aboutMU

RASA

Diposting oleh Unknown


                                          -kepada Titin Calon Istriku

kalaupun ini bernama sunyi, adikku

ketika gerai rambut tersangkut di pucuk malam

gerimis tempias ke pipi, hujan tersungkur di jalan-jalan

ada yang akan terjadi manisku.


kalaupun ini bernama sunyi, adikku

perkenankan aku melepaskan Tanya

siapa suruh bongkar lemari

hingga terlihat seluruh isi

siapa suruh berindu-dendam

membuat rasa gundah-gulana

siapa suruh menjaring mimpi

membakar diri dalam api cinta

siapa suruh cinta datang merangkul hati

menyimpul tali ikatan janji.




kalaupun ini bernama sunyi, adikku

ketika angin menjilat ujung rambutmu

tetap datang aku walau penuh luka

lalu sama-sama menyulam jadikan rindu

menempel di dinding hati agar mudah mengingat kembali.

Banda Aceh, 1993

More aboutRASA

BLOK M

Diposting oleh Unknown


tersesat dalam meriahnya kotamu Jakarta

matahari membakar ubun-ubun

bulan menari-nari di atas kepala

semuanya diatasnamakan angka

O, Allah di sini banyak kemudi patah

terombang-ambing di lautan pencaharian.

Jakarta, 1993

More aboutBLOK M

RINDU I

Diposting oleh Unknown


biarkan rindu mengalir

menyembuhkan luka batin

dari warisan dendam anak Adam.


biarkan rindu mengalir

seperti angin bebas nelangsa

kirimkan salam pada dedaunan.


biarkan rindu mengalir

seperti air pembawa rahmat

membasuh muka bersihkan segala khilaf.


biarkan rindu mengalir

seperti penyair menyalin kata

jadikan doa dalam tahajud hamba

(Ya, Allah berbasah-basah aku datang mengetuk pintu-Mu)
Banda Aceh, 1993
More aboutRINDU I

SABAR

Diposting oleh Unknown


telah terlalu sering belajar bersabar

pada laut. Bersedia menerima sampah

segaja di buang ke dasar hati.


telah terlalu sering belajar bersabar

pada ombak. Setia memukul pantai

terkadang pasir terjilati bersama hempasan riak

entah kapan sampai pada garis tuju.


Banda Aceh, 1993

More aboutSABAR

CATATAN KAKI

Diposting oleh Unknown on Minggu, 04 Desember 2011


dari sudut yang paling sunyi

ingin kuceritakan luka kita

tiba-tiba ingat aku tentang laut

menerima tumpahan kecewa ke perutnya

lalu lahir kesabaran abadi.


dari sudut yang paling sunyi

ingin kuceritakan tentang buah cinta

tergadai diatasnamakan peradaban kampung

segumpal hati mati

tajam pisau tikam rindu jadi sepi.


Banda Aceh, 1993

More aboutCATATAN KAKI

CATATAN KAKI

Diposting oleh Unknown


dari sudut yang paling sunyi

ingin kuceritakan luka kita

tiba-tiba ingat aku tentang laut

menerima tumpahan kecewa ke perutnya

lalu lahir kesabaran abadi.


dari sudut yang paling sunyi

ingin kuceritakan tentang buah cinta

tergadai diatasnamakan peradaban kampung

segumpal hati mati

tajam pisau tikam rindu jadi sepi.


Banda Aceh, 1993

More aboutCATATAN KAKI

CATATAN KAKI

Diposting oleh Unknown


dari sudut yang paling sunyi

ingin kuceritakan luka kita

tiba-tiba ingat aku tentang laut

menerima tumpahan kecewa ke perutnya

lalu lahir kesabaran abadi.


dari sudut yang paling sunyi

ingin kuceritakan tentang buah cinta

tergadai diatasnamakan peradaban kampung

segumpal hati mati

tajam pisau tikam rindu jadi sepi.


Banda Aceh, 1993

More aboutCATATAN KAKI

DESIR ANGIN

Diposting oleh Unknown


desir itu angin nelusup

belai mesra kecil hatiku kecil

antar sepi ke pucuk-pucuk daun

(menjanjikan kesetiaan berlabuh di muara hati).


Banda Aceh/CeKa, 1993

More aboutDESIR ANGIN

PEREMPUAN II

Diposting oleh Unknown



rasa menggeliat tangis pecah di gunung sepi

ada yang belum terjawab, manisku

perjalanan malam sering menghalau rindu

hentikan ombak pada pantai tak bertepi

riak terkurung dalam gelombang hati

tumpah sunyi ke nurani diri.

Banda Aceh, 1993

More aboutPEREMPUAN II

TUMPAH SEPIKU DALAM LAUT

Diposting oleh Unknown


kutumpahkan sepi dalam laut

ketika mengingatmu menggalaukan jiwa

hati kecil berkejaran bersama riak

mengajari aku bersabar

tentang kesetiaan yang hakiki.


Banda Aceh/CeKa, 1993

More aboutTUMPAH SEPIKU DALAM LAUT

PERJALANAN MALAM

Diposting oleh Unknown



Banda Aceh:

gerimis mengantar malam

sementara hujan membasuh rindu

tumpah ke samudera hati.


Saree:

sunyi mengantar gigil

pada mimpi tak berujung

perjalanan ini mestikah diteruskan.


Sigli:

segumpal kalbu jatuh

kadang meruncing menikam-nikam

hingga beranak duri dalam daging.


Beureunuen:

melewati tanah kelahiran

hilang rasa dalam pekat malam

segala petuah dan cinta terkuburkan.


Biruen:

tak ada lagi yang melantunkan syair

seperti awan di tiup angin

terburai entah kemana.





Takengon:

sepucuk rindu menggelegak

ingin cepat bertemu Emak

melepas segala galau menyesak.


Indonesia:

berpuluh tahun kuukir nama itu dengan cinta

dan laut senantiasa menghapusnya.

Aceh-Jakarta, 1993

More aboutPERJALANAN MALAM

BIARLAH

Diposting oleh Unknown



biar lepas urat nadiku, biarlah

asal aku masih dapat bertasbih

biar remuk tulang sum-sumku, biarlah

asal ratebku masih terdengar nyaring

biar hilang bentuk ujudku, biarlah

asal aku masih punya segumpal iman.

Banda Aceh, 1993

More aboutBIARLAH

CINTA

Diposting oleh Unknown



                                                -bagi Titin Calon Istriku

entah bagaimana menerjemahkan kesucian

terhidang dari nikmatnya sakit

bungkus gelisah

obati luka batin

antar hati keperkuburan rindu

lewat setetes air jatuh dari keningmu.

Banda Aceh, 1993

More aboutCINTA

PERTEMUAN

Diposting oleh Unknown


                                                   
-bagi Titin Calon Istriku

krueng peusangan menebar segala rindu

mempertemukan Malem Dewa dengan Bensu puteri

izab kabulpun berlaku di gubuk Mak Ni tua

negeri antara di goyang canang semalam suntuk.


krueng peusangan menebarkan rindu

kabut beruntai seperti rambut sang puteri

mengelus-elus dada telanjang.


krueng peusangan mengantarkan rindu

telah pula kukabarkan pada leluhur

tentang tulang rusuk telah kutemukan

kutaburkan harum renggali dipelaminan

agar perjalanan waktu menjadi catatan kebudayaan.

Takengon, 1992
More aboutPERTEMUAN

SENYUM BULAN

Diposting oleh Unknown


                                               
-kepada pelukis Versevenny

ada gundah berombak di dada

lambungkan harap pada sepucuk hati

tumpahkan sekian resah-gauli gelisah.


ada gundah berombak di dada

tiang mana ikatkan tali

biar kapal dapat merapat melabuhkan rasa

pendam dalam laut nurani.


ada gundah berombak di dada

ketika terik hari bergasing atas kepala

O, jangan biarkan gerimis tempias ke wajah

O, jangan biarkan nyeri membungkus luka

(mari jemput waktu lewat senyum di kening bulan).

Banda Aceh, 1992
More aboutSENYUM BULAN

SEPUCUK SURAT DARI BUNDA KUTERIMA TADI PAGI KETIKA GERIMIS JATUH DI ATAS GUBUKKU

Diposting oleh Unknown




itu surat tetap kusimpan dalam lipatan benak

pakaian kebesaran belum juga lengket di badan

entah dapat-entahpun melayang

(Ibu, berikan selendang, kuatkan ikat pinggangku).

Banda Aceh, 1992

More aboutSEPUCUK SURAT DARI BUNDA KUTERIMA TADI PAGI KETIKA GERIMIS JATUH DI ATAS GUBUKKU

CELOTEH KECIL MANUSIA KECIL

Diposting oleh Unknown on Sabtu, 03 Desember 2011

antologi puisi ‘riwayat’ 50







CELOTEH KECIL MANUSIA KECIL



belum dapat-dapat merebut bulan

lari dari ketiak ibu. Sembunyi

di balik ketiak bapaknya

sementara anak sampan menghempas ombak

dalam malam-malam buta tanpa bulan.



Banda Aceh/CeKa, 1992



































































Sulaiman Juned
More aboutCELOTEH KECIL MANUSIA KECIL

DI ALTARMU KUTARAJA KUTEMUI CINTA

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 49







DIALTARMU KUTARAJA KUTEMUI CINTA



dialtarmu Kutaraja kutemui cinta

ketika memandang lekat gunongan

peninggalan purba

mengajarkan kasih sayang

seorang hamba.



dialtarmu Kutaraja kutemui cinta

ketika mesjid Baiturrahman mengalunkan kalam-Mu

O, Allah betapa agung tanah Iskandar Muda

mengajarkan kejujuran-keadilan dan kesetiaan

hatikupun bermesraan didalamnya.



Banda Aceh, 1992























































Sulaiman Juned
More aboutDI ALTARMU KUTARAJA KUTEMUI CINTA

PELUKLAH AKU WAHAI KEKASIH

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 48







PELUKLAH AKU WAHAI KEKASIH



peluk mesrai aku wahai kekasih

yang berjalan sendiri bersama kelam

tanpa suluh di tangan, tanpa apa-apa

semuanya hitam melekat pada raga.



peluk mesrai aku wahai kekasih

yang menghempas ombak mengarungi samudera

tanpa nakhoda-tanpa petunjuk

kehaluan mana kemudi harus kuputar.



peluk mesrai aku wahai kekasih

dalam alam saban hari terjerang kehausan

seperti hidup sesungguhnya bukan lagi hidup

laksana mati sebelum dimatikan.



peluk mesrai aku wahai kekasih

agar dapat hidup lebih mesra di negeri lain

negeri yang dimeriahkan tetari bidadari

dan mengalungkan bunga sebagai janji bakti.



peluk mesrai aku wahai kekasih

agar aku tak lagi melihat perseteruan

agar aku tak lagi menyaksikan peperangan

yang mengalirkan air mata, darah dan dendam

(O, Allah damaikanlah hati saudaraku dari kebencian)



Banda Aceh/CeKa, 1992



























Sulaiman Juned
More aboutPELUKLAH AKU WAHAI KEKASIH

CATATAN RINDU SEORANG LELAKI

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 47







CATATAN RINDU SEORANG LELAKI



perjalanan malam terikat waktu, manis

seperti Adam cintakan Hawa. Rela

memamah khuldi untuk sebuah kesetiaan.



perjalanan matahari terikat waktu, manis

membuat kaki langit kehilangan tepi. Entah

kapan sampai pada garis tuju.



Banda Aceh/CeKa, 1992































































Sulaiman Juned
More aboutCATATAN RINDU SEORANG LELAKI

ZIARAH

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 46







ZIARAH



-di pusara Abi tercinta



ada angin

tertinggal di atas tanah tumpukan

kadang meruncing menembus dada

bila mengingat peristiwa lalu.



Usi Dayah, 1992

































































Sulaiman Juned
More aboutZIARAH

HARUSKAH KUGADAIKAN LADANGKU

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 45







HARUSKAH KUGADAIKAN LADANGKU



bergumul debu hitam di terik matahari

garis-garis cinta hangus terbakar

rupa tersebar dipepohonan mati

berapa ku hargai sepetak ladangku.



Banda Aceh, 1992





































































Sulaiman Juned
More aboutHARUSKAH KUGADAIKAN LADANGKU

KUTENGADAHKAN ISI KALBU

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 44







KUTENGADAHKAN ISI KALBU



biar ini kalbu memangut rindu

mengirim setiap luka biru. Tak mengada-ada

biarlah setiap lembah terjamah menyimpan

sekian rasa. Belum ada yang memberi madu

semuanya menumpahkan duka.



Banda Aceh, 1992



































































Sulaiman Juned
More aboutKUTENGADAHKAN ISI KALBU

TUHAN TERIMALAH DAKU

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 43







TUHAN TERIMALAH DAKU



air suci

basuh muka dari nanah

aku tadah

telapak tangan menemui-Mu.



Banda Aceh/CeKa, 1991





































































Sulaiman Juned
More aboutTUHAN TERIMALAH DAKU

BEUREUNUEN KOTA KECIL ITU

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 42







BEUREUNUEN KOTA KECIL ITU



sibuk

menata tubuh bernanah

di tepi krueng baranom.


Beureunuen, 1991







































































Sulaiman Juned
More aboutBEUREUNUEN KOTA KECIL ITU

MEDITASI

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 41







MEDITASI



usah resah engkau hatiku

sebentar lagi pagi menjelang

usah gundah duhai kalbuku

sabit pasti berubah purnama. Bersabarlah

seperti laut menerima tumpahan dengki.



Banda Aceh/CeKa, 1991



































































Sulailaiman Juned
More aboutMEDITASI

PADA BEKAS REL KERETA API

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 40







PADA BEKAS REL KERETA API



sepasang insan

menggadaikan negeri atas nama

cinta.



Banda Aceh/CeKa, 1991







































































Sulaiman Juned
More aboutPADA BEKAS REL KERETA API

PAHAMILAH KEKASIH

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 39







PAHAMILAH KEKASIH



pahamilah getar rumput sepanjang alis

matamu. Menjanjikan keikhlasan daun-daun

tersenyum di tampar angin-jerit musim

gugur dari rahasia langit. Pahamilah

kesepian bukan milik kita.



Banda Aceh/CeKa, 1991



































































Sulaiman Juned
More aboutPAHAMILAH KEKASIH

TITIN; SEBUAH MAWAR RINDU MEWANGI

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 38







TITIN; SEBUAH MAWAR RINDU MEWANGI



belum dapat-dapat menyergap wangi itu

telah pula dikembalikan pada cerita usang

mengharuskan buka jendela luka

adinda,

angin selalu setia mendoidangkan jerat-jerat rindu.



Banda Aceh/CeKa, 1991



































































Sulaiman Juned
More aboutTITIN; SEBUAH MAWAR RINDU MEWANGI

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 37







BULAN



ini kalbu rindu rembulan

bertengger di atap rumah tetangga

meremas kata-merekah kasih

sementara di pucuk cemara

ada camar menyeruak kepak mengantar rasa

Ohoi! Mari tabuh benih agar bertebar harap.



Banda Aceh/CeKa, 1991

































































Sulaiman Juned
More about

LEBARAN MALAM ITU

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 36





LEBARAN MALAM ITU



setiap sudut takbir menggema

di meunasah beratap rumbia canangpun bertalu

semua orang harus menanggalkan permusuhan

separah apapun bentuk luka pernah di perbuat;

mari kita ikat pada tiang silaturrahmi

bulanpun menari-nari di atas perahu

lebaran malam itu.



Takengon/CeKa, 1412 H.

































































Sulaiman Juned
More aboutLEBARAN MALAM ITU

DI MEUNASAH TUA AKU BERTADARUS

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 35







DI MEUNASAH TUA AKU BERTADARUS



ini malam

adalah juga malam sebelumnya

duduk bersimpuh dan bertadarus

berjuz-juz lafalkan ayat-Mu

menadah makrifat-Mu

aku semakin kecil dan kerdil dihadapan-Mu.



ini malam

tak habis-habis kueja nama-Mu

dalam ratebku semalam suntuk

di Meunasah tua.



lain malam

adalah juga malam sebelumnya

di Meunasah tua beratap rumbia

sebayaku mengaungkan puja-puji

seperti juga aku:

Alhamdulillah

Laillahaillallah

Allahuakbar

malam itu

meunasah tua ketika kecilku dulu

mengeja juz Amma

menghafal Al-Qur’an

meneliti Kitab Kuning

mengikat batin.



meunasah tua

aku rindu bersamamu lagi

aku rindu Petua Syik berkutbah lagi

aku rindu melafal lagi nama-nama-Mu

Allah ya Allah-Allah ya Allah.



Usi Dayah 17 Ramadhan 1412 H.













Sulaiman Juned
More aboutDI MEUNASAH TUA AKU BERTADARUS

SENANDUNG KECIL BUAT TITIN

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 34







SENANDUNG KECIL BUAT TITIN



telah kita ukir sebuah kesetiaan

pada pasir kuburkan rindu hati

berbondong-bondong janji

kita ikat pada waktu tak henti

: Kapan pelaminan terisi.



Banda Aceh/CeKa, 1991



































































Sulaiman Juned
More aboutSENANDUNG KECIL BUAT TITIN

KEPUTUSAN

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 33






KEPUTUSAN


-bagi penyair-penyair Aceh



yang menemui kebuntuan

dalam mengepak sayap berderap

lalu sepakat pada perjanjian

anak sampan itu; semestinya ditenggelamkan

biar terdampar di pantai tak bertuan.



Banda Aceh/CeKa, 1991































































Sulaiman Juned
More aboutKEPUTUSAN

PERKAWINAN

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 32







PERKAWINAN


-kepada penyair Nurdin F. Joes





Allah telah menyaksikan

lewat perantara penghulu

sampailah pada pelaminan

menyandingkan anak-anak rindu. Itu tali

mengikat serat serabut kalbu

meniti sekian kasih. Itu tali

kuat ikatannya pada dermaga

agar tak goyang di hempas ombak

biar wangi mawar semerbak melintasi

negeri leluhur-menjanjikan sekian cinta

(perkawinan catatkan lewat untaian mutu manikam).



Banda Aceh/CeKa, 1991

















































Sulaiman Juned
More aboutPERKAWINAN

LAPORAN GADUH SEORANG BEKAS MAHASISWA DI KUBURAN BEKAS AKTIVIS MAHASISWA

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 31







LAPORAN GADUH

SEORANG BEKAS MAHASISWA

DI KUBURAN BEKAS AKTIVIS MAHASISWA



kawan!

susah hidup dikotamu

segala hati dikuasai kekuasaan.



Banda Aceh, 1990




























Sulaiman Juned
More aboutLAPORAN GADUH SEORANG BEKAS MAHASISWA DI KUBURAN BEKAS AKTIVIS MAHASISWA

SEBUAH CATATAN

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 30







SEBUAH CATATAN



-bagi Titin Calon Istriku



catatan bercerita tentang keberadaan

membumbung dalam sukma. Senja

itu bersamamu telah banyak yang terpahat

di hati. Moga bukan mimpi.



Banda Aceh/ CeKa, 1990









































Sulaiman Juned
More aboutSEBUAH CATATAN

MERAMPAS SUBUH

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 29





MERAMPAS SUBUH



itu subuh koyak-monyak di rampas

dari tangan ke tangan. Hitam

tergambar pada wajah yang tak mengerti

mengapa diterlantarkan.



Banda Aceh/CeKa, 1990


























Sulaiman Juned
More aboutMERAMPAS SUBUH

SATU PENUNDAAN LAGI

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 28







SATU PENUNDAAN LAGI



tak bisa menancapkan rindu

ladang berdebu. Sawah

kering dan terpecah-pecah

terpaksa kita tak bisa menikah lagi.



Banda Aceh/CeKa, 1990






































Sulaiman Juned
More aboutSATU PENUNDAAN LAGI

LUKA I

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 27







LUKA I



malam membuat lupa segalanya

karena bulan tembaga

tertusuk runcing ilalang.



Banda Aceh/CeKa, 1990
























































Sulaiman Juned
More aboutLUKA I

MENJEMPUT

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 26







MENJEMPUT



ini laut tak bertepi

entah angin apa- riak apa-ombak apa

tak kuketahui. Semua hilang ingatku

yang ada melambai-lambai dari jauh

sebuah angin-sejentik rasa-segumpal rindu

dari jauh memandang jauh mendekat segala hati

itu laut terarungi lewat badai jemput amukan kalbu.



Banda Aceh, 1990















































Sulaiman Juned
More aboutMENJEMPUT

NYANYIAN LUKA

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 25







NYANYIAN LUKA



I

berpuluh-puluh rencong

berikan salam hadirkan malam

bulan tembaga tertusuk runcing ilalang.



II

berpuluh-puluh rencong hujani dadaku

tikam diam jadikan diam

tikam rindu jadikan diam

tikam sepi jadikan diam

tikam hati jadikan diam

diam berdarah diam.



III

berpuluh-puluh rencong tikam diam

antar hati keperkuburan waktu

mari gendong luka agar terasa nikmat.



Banda Aceh, 1990











































Sulaiman Juned
More aboutNYANYIAN LUKA

PEREMPUAN I

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 24







PEREMPUAN I



-sebuah kenangan di Pantai Mepar



adalah pengantin yang di tanam batu perkawinan

memandang ke belakang menjilat denting canang

tak lagi menyandingkan ikan-ikan di tepi Laut Tawar.



Takengon/CeKa, 1990





























































Sulaiman Juned
More aboutPEREMPUAN I

LAUT TAWAR

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 23







LAUT TAWAR



tak ada lagi cerita puteri Bensu dan Malem Dewa

juga tentang Banta Ahmad yang jadi batu

tak juga Pukes yang menyesalÿÿdiriÿÿengan tangis

tetapi coba tenggelamkan lukaku yang kian menjadi.



Takengon/CeKa, 1990





































































Sulaiman Juned
More aboutLAUT TAWAR

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 22







ABA-ABA



bersiaplah!

gali liang, kuburkan luka

di tanah yang memerah.



Beureunuen, 1989
More about

LEBARAN DI RANTAU

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 21







LEBARAN DI RANTAU





itu malam petasan dan mercon diledakkan

degup jantung melambai-lambai

mengikuti nyanyian takbir;

Allahuakbar

Allahuakbar

Allahuakbar walillahilhamdz.



ya Allah aku hilang di telan keramaian

satu-satu terbayang keluarga di kampung

bapak duduk bersimpuh sambil memilin rokok daun

ibu menyulam baju hadiah lebaran untuk cucu

Idah adikku manis menangis bila tak dibelikan sepatu

O, lebaran di rantau semakin kencang degup jantung

(kutumpahkan rindu ke laut sepi).



Banda Aceh, 1989





























Sulaiman Juned
More aboutLEBARAN DI RANTAU

KEMERDEKAAN: KESAKSIAN SEORANG PENYAIR

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 20







KEMERDEKAAN: KESAKSIAN SEORANG PENYAIR



kemerdekaan adalah

ketika kita bebas berbicara

tentang hak yang berhak

ketika kita bebas dari pasungan

tidak sembunyi dari ketiak ibu

dan lari dalam ketiak bapak.



kita sekarang mengeja kemerdekaan

dengan gedung mewah menyundul langit

bersama perempuan-perempuan dipanti pijat

perekonomian melarat, kemiskinan sekarat

kita sekarang membaca kemerdekaan

dengan luka. Darah dan laras senapan-menyerahkan

ini punya nyawa-memberikan ini punya harta

(kita belum mampu mengartikan malam).



ibu, aku menyaksikan air mata darah tertumpah

pada dada memerah. Aku menyaksikan para badut

menggenggam niat busuk-melakonkan pesta canda mengobral

gelisah. Segala perencanaan tersangkut di kantong jas sapari

kolam susu negeriku terkuras habis-membuat istana pribadi

sambil menghitung kekayaan hasil korupsi-naik haji hasil

kolusi-memperbanyak isteri hasil manipulasi;

ibu, berpuluh-puluh tahun kupahat namamu

pada air mengalir

pada batu membeku

pada hati membisu

dan ombak senantiasa menghapusnya.



ibu, subuh berkabut tersangkut di pucuk rambut

ada luka teramat menyiksa tak teraba. Bunga-bunga

bangsa berkunang airmatanya-terpaksa diyatimkan. Kekuasaan bermata

gelap-memaknai keadilan dan akal sehat; mengapa ledakan peluru

menghukumnya-kuburan sebagai penjara seumur hidup

inilah kesaksian seorang penyair kecil. Kesaksian peradaban menuntun perubahan

(Indonesia! Dari sudut manakah wajahmu kupandang tak jemu)



Aceh, 1989
More aboutKEMERDEKAAN: KESAKSIAN SEORANG PENYAIR

SURAT BEKAS MAHASISWA KEPADA AKTIVIS MAHASISWA

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 19





SURAT BEKAS MAHASISWA KEPADA AKTIVIS MAHASISWA



-bagi aktivis mahasiswa UNSYIAH



inilah suratku

kukirim kepada yang mengaku aktivis

catatan pada selembar daun kering di tangan

kukirim juga kepada saudaraku yang tertindas peradaban

kota. Hingga bulan pecah berdarah

turun kepelukan bunda, matahari tersangkut di ujung

ketidakadilan.



inilah suratku

kukirim kepada yang mengaku aktivis

melantunkan nyanyian dan koor panjang tentang keadilan

katanya berani membela hak yang berhak. Membela orang-orang

terjajah. Kejujuran berdiri atas nama

keadilan.







inilah suratku

kukirim kepada yang mengaku aktivis

mari simak-nikmati manisnya gula-gula. Agar tak sakit

bila merasakan luka-kemarin ada yang di gusur;

di ganyang-di giring seperti kelinci dikeluarkan dari kandang

kemarin ada yang meratap-menangisi nasib tersebab tak tahu

kemana menggantungkan harap, maka:

jadilah langit sebagai atap

jadilah bumi sebagai lantai

jadilah gunung sebagai dinding

jadilah angin sebagai selimut

mengantar mimpi tidur malam.






inilah suratku

kukirim kepada yang mengaku aktivis

mana ceritamu beterbangan seperti burung walet

mengantar kedamaian. Mana ceritamu menembus awan

seperti anak panah melesat dari busur jatuhkan bintang-gemintang

menjanjikan seribu harap direlung nurani rakyat. Wahai

engkau yang mengaku aktivis

dipekarangan rumahmu ada seulanga mengharumkan seisi rumah

diberanda kau duduk menikmati sepotong kue dan segelas kopi

sementara dipelupuk mata-jerit tangis saudaramu bergelimang

bersama darah. Mereka tak lagi berumah-entah diselokan mana

merajut mimpi-terasing di tanah sendiri-hati tersayat

(Berapa harga kelicikan-kebiadabanmu dapat kubeli).





Banda Aceh/CeKa, 1989
More aboutSURAT BEKAS MAHASISWA KEPADA AKTIVIS MAHASISWA

IKRAR PARA PENGANGGUR

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 18





IKRAR PARA PENGANGGUR



lepaskan belenggu pengangguran

menjerat jiwa semakin parah

melahirkan wajah-wajah kepalsuan

pembawa wabah penyakit menular.



kami dari sekian penganggur

kumpulan rakyat jelata terbuang

tersisih dalam kemelut zaman

dininabobokkan janji-janji semu

terombang-ambing masa menikam.



kami selaksa penganggur

terdampar diemper-emper pertokoan

terkurung dalam tong-tong sampah

terkuliti kancah debu nista

membawa rasa kadangkala dosa.



kami sah-sah saja disebut gelandangan

penganggur tak beratap-tak bertepi

tak hendak berpacu dalam penyelewengan

kami ikhlas saja dicap-cip-copkan

dengan nama orang-orang tak berguna

tapi;

bila kebenaran kami dapatkan, kenyanglah kami

bila kebenaran diselewengkan, laparlah kami

o, terkutuklah kau jahanam

yang membuat tangan pendek menjadi panjang

yang membuat air mata membasahi jalan berliku

yang membuat lorong putih menjadi hitam

yang membuat hati nurani menjadi iri

yang membuat surga jadi neraka

yang menghadirkan berjuta-juta nafas kepalsuan

“lepaskan belenggu pengangguran”

Itulah ikrar kami.



(Jakarta-Banda Aceh, 1989)
Sulaiman Juned
More aboutIKRAR PARA PENGANGGUR

SETETES RINDU

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 17







SETETES RINDU



ranting cemara bergerak

melantunkan syair kerinduan

rindu kian terpendam

pada akar menghitam. Senja itu

ranting cemara menggeliat

membenam diri berpaut. Ombak

bercumbu seperti dulu masih

membawa malam. Suluh itu tak

datang lagi, wahai!



Sarah-Aceh, 1989





















































Sulaiman Juned
More aboutSETETES RINDU

LANGKAH-JIWA-SUNYI

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 16







LANGKAH-JIWA-SUNYI



I

hujan membasahi alis

bertengger indah di kening

kekasih. Dara manis mengalunkan syair;

kembalilah kanda.



II

jiwa bertalu-talu

bagai gendang ditabuhkan

bergolak memecah tebing

luka bernanah.



III

malam mati

mencari jejak diri

di telan bayang.



Banda Aceh, 1989






























Sulaiman Juned
More aboutLANGKAH-JIWA-SUNYI

CEMPALA

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 15







CEMPALA



cericit cempala berkicau

bulu halus mulai tumbuh

mengepak sayap –tinggi terbang

menentang badai meraih cita.



walau bulu sekerat masih

cempala tetap menyeruak, wahai!

menentang segala yang menghadang.



Banda Aceh, 1989





























































Sulaiman Juned
More aboutCEMPALA

TIKUS

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 14





TIKUS



mentari rebah

memeluk bumi. Malam

menjelma hadirkan sunyi

tikus beraksi mengerat laci

melenyapkan segala isi

membuat istana pribadi.



Banda Aceh, 1989



































































Sulaiman Juned
More aboutTIKUS

AJAL

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 13





AJAL



tiada lagi yang tersisa

dalam denyut nadi sekalipun

semua terpahat

di dinding kemuning senja.



Banda Aceh, 1989






























































Sulaiman Juned
More aboutAJAL

KEMATIAN

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 12







KEMATIAN



ah!

sudah siapkah

kita melangkah menghadap Ilahi.



Banda Aceh, 1989







































































Sulaiman Juned
More aboutKEMATIAN

BENING MATAMU- NADA

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 11







BENING MATAMU- NADA



simpan berjuta rahasia

dibalik indahnya bola mata

coba kuakkan berlaksa gita

dari sana.



jangan ragu suatu saat bulan cerita

tentang arti kehidupan

buka rahasia

yang tersimpan di bening matamu.



Darussalam, 1989

















































Sulaiman Juned
More aboutBENING MATAMU- NADA

TAUBAT NASUHA

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 10




TAUBAT NASUHA



di tikar sajadah

hati tenggelam dalam khusuk

untuk menemui-Nya

Allah

Allah

Allahuakbar.



Banda Aceh, 1989




























































Sulaiman Juned
More aboutTAUBAT NASUHA

SEMALAM DI PULAU KAPOK

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 9



SEMALAM DI PULAU KAPOK



I

angin-petir-hujan menemani

gigil. Menggigit bibir

jasad basah-tetap membimbing

menuntun renungan.



II

hujan belum reda

dingin menyucuk tulang

tak ada yang beranjak dari renungan malam

walau diri tak kuasa melangkah

seutas senyum tersungging

gelora jiwa menyatu. Di sini

aku mengenal diri begitu kecil dihadapan-Mu

Tuhan.



III

kabut membias turun di pasir putih

ombak bergulung bercumbu mesra

ada yang tertinggal di dalam jiwa

di tungku perapian segala tertumpah

kasih adalah indah-cinta adalah anugerah

(peliharalah setali kasih kita).



Lhoknga, 1989

























Sulaiman Juned
More aboutSEMALAM DI PULAU KAPOK

PERPISAHAN DI TERMINAL STUEI

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 8





PERPISAHAN DI TERMINAL STUEI




I

debu berterbangan

menbawa berita duka.



II

terhenyak

klakson mobil

mengoyak hati

tak sempat berjabat tangan

tak sempat ucapkan selamat jalan

setetes air bening

mengalir di sela mata.



III

dalam sepi

seribu kunang-kunang terngiang kembali

seutas tikar-setali jangkar, kita

mengarungi masa remaja. Kudengar

kau bahagia

aku suka

perjalanan masih panjang

teruskan-teruskan kasih.



Seutuei Aceh, September 1989











Sulaiman Juned
More aboutPERPISAHAN DI TERMINAL STUEI

NYANYIAN BAGI PEREMPUANKU

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 7





NYANYIAN BAGI PEREMPUANKU



deru ombak nyanyikan suara batin

tentang luka yang pernah ada

senja itu,

tercatatlah legenda cinta yang purba

jadi sejarah pada bebatuan

barangkali bulan tembagaku

lenyap di telan

kabut.



Banda Aceh, 1989



























































Sulaiman Juned
More aboutNYANYIAN BAGI PEREMPUANKU

PELABUHAN KUTARAJA

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 6





PELABUHAN KUTARAJA



ombak bergulung

membawa berita duka

suara peluit kapal

mengoyakkan hati.



Krueng Raya, 1989







































































Sulaiman Juned
More aboutPELABUHAN KUTARAJA

MENGHITUNG

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 5





MENGHITUNG



berulang kali menghitung

malam-pekat. Menusuk-nusuk

jiwa. Mengalir dendam

di kalbu-coba berkiblat memberi

arti. Belum juga sampai pada makna

hakiki-kapan langkah tua pecah

berdarah

mati.



Banda Aceh, 1988





















Sulaiman Juned
More aboutMENGHITUNG

PEREMPUAN SETENGAH BAYA

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 4





PEREMPUAN SETENGAH BAYA



perempuan setengah baya

menenteng keranjang, berbaju kumal

tersaruk-saruk di terminal

jemari kerut dan gemetar.



perempuan setengah baya

menenteng keranjang berbaju kumal

berlaksa kepedihan terukir di raut wajah

penderitaannya-derita dari sepotong kalbu

terkurung penjara kepapaan.



perempuan setengah baya

menenteng keranjang berbaju kumal

lukanya-luka perempuan desa

yang memecah tabir kepalsuan dunia

terkuliti kancah debu nista. Tersenyumlah

rembulan setia memberi secarik sinar

suatu ketika.



(Antara Lampung-Jakarta, 1987)
More aboutPEREMPUAN SETENGAH BAYA

KO-PE-AN

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 3









KO-PE-AN



meringankan beban orang tua.





Banda Aceh, 1985



































Sulaiman Juned
More aboutKO-PE-AN

TRAGEDI KEHIDUPAN

Diposting oleh Unknown

antologi puisi ‘riwayat’ 2



TRAGEDI KEHIDUPAN



kalau ditanya kekasih

bilang aku telah pergi.



kalau ditanya polisi

bilang aku telah mati.



kalau ditanya emak

bilang aku pasti kembali.





Banda Aceh, 1980














































Sulaiman Juned
More aboutTRAGEDI KEHIDUPAN

KELAHIRAN LUKA ANAK ADAM

Diposting oleh Unknown

RIWAYAT: 1980 – 1989

antologi puisi ‘riwayat’1



KELAHIRAN LUKA ANAK ADAM





telah berbondong-bondong luka di kalbu

antar tradisi warisan purba. Hitam

tertanam lekat di sisi jantung

kubur-leburkan kuburan dendam

mengalir jua lewat pori-pori

ohoi! Tak sanggup melawan titipan anak Adam.



Banda Aceh, 1980
More aboutKELAHIRAN LUKA ANAK ADAM

Pengantar 'Riwayat' oleh Soediro Satoto

Diposting oleh Unknown

Sulaiman Juned Menyuarakan Kematian, Kekerasan, Ketidakadilan, Kelicikan, Perbedaan dan Konflik dengan cinta kasih

Soediro Satoto *)

Antologi puisi Riwayat ini ditulis oleh Sulaiman Juned. Meskipun orangnya tampak pendiam, low profile, ia seorang nasionalisme, moderat (bukan, separatisme, atau provokator) berkat hasil didikan kedua orang tuanya yang ketat berdisiplin, gigih, demokratis, dan religius sejak kecil. Ia pernah memakai nama samaran Soel’s J. Said Oesy ( ‘nunggak semi’ dengan nama ayahnya). ‘Juned kecil’ adalah anak kelima dari enam bersaudara buah cinta dari Abi/ayahnya, M. Juned Said, dengan Emak/ibunya, Juhari Hasan, (keduanya sudah almarhum dan almarhumah). Si Sulaiman Juned kecil tersebut dilahirkan di desa kecil Usi Dayah, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, Aceh, 12 Mei 1965. Jadi, ia adalah salah seorang warga asli Aceh menjadi warga Indonesia dan juga warga dunia yang menjadi saksi hidup sekaligus pelaku sejarah terjadinya konflik di Aceh, dan diperburuk dengan bencana alam gempa dengan skala ricther 8,9 dan tsunami yang telah banyak makan korban: baik waktu, fisik, psikis, finansial, material, fasilitas, nyawa, dan jika tidak segera diakhiri, juga generasi penerus penduduk Aceh (sekarang Nangroe Aceh Darussalam).

Penyair, teaterawan, dramawan yang wartawan dengan segudang pengalaman di berbagai profesi dan kegiatan seni, budaya, dan pariwisata, antara lain: sebagai jurnalis, baik sebagai penulis di berbagai surat kabar, majalah, maupun sebagai redaktur budaya atau editor majalah atau jurnal di berbagai kota. Di samping sebagai penulis puisi, naskah lakon, atau skenario sinetron, Soel (begitu rekan-rekan seniman Aceh dan Sumatera Barat memanggilnya) juga berperan sebagai aktor, sutradara – ia telah menyutradarai 102 pementasan teater di Taman Budaya Aceh dan di Sumatera Barat, serta melakukan pentas keliling: Aceh, Medan, Padang, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Palembang, Jakarta dan Bali. Bersama Sanggar Cempala Karya yang ikut didirikannya di Banda Aceh, serta bersama Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang yang dipimpinnya, Sulaiman Juned kecil sejak tahun 1995-1997 tiap-tiap bulan secara rutin mengisi acara sinetron di TVRI Stasiun Aceh. Sekali-kali di TVRI Stasiun Sumatera Barat dan Jakarta.

Ada beberapa faktor pendukung yang significant sehingga bisa menghantarkan Soel kecil menulis antologi puisi Riwayat. Antologi tersebut terdiri dari 132 puisi yang ditulis dalam kurun waktu tahun 1980-2006 (25/26 tahun). Dibagi ke dalam tiga periode. Periode I, Tahun 1980-1989; Periode II, Tahun 1990-1994; dan Periode III, Tahun 1995-2006. Periode I terdiri dari 22 buah puisi; Periode II 48 buah puisi; dan Periode III 62 buah puisi.

Beberpa faktor pendukung yang dimaksud di atas, antara lain: (1) Secara keseluruhan, antologi puisi Riwayat ini melukiskan respon seorang jurnalis, sastrawan (sebagai teaterawan, dramawan yang penyair) terhadap drama konflik beserta pahit manisnya kehidupan di Aceh sebelum, sesaat, dan sesudah ditandatangani MOU oleh kedua belah pihak yang berkonflik belum lama ini di Swis, dan berbagai bencana alam, termasuk tsunami, dan berbagai dampaknya. Sedangkan Sulaiman Juned kecil yang meriwayatkan peristiwa tersebut adalah warga dunia kelahiran Aceh. Kini ia sudah berkeluarga, beristri dan beranak hasil perkawinannya dengan dara idamannya Iswanti yang sering di sebut Titin, gadis peranakan Jawa-Aceh (Bapaknya dari Jawa Tengah, dan ibunya dari Aceh). Jadi, sebagai saksi dan pelaku sejarah, didukung oleh pengalamannya sebagai jurnalis, ia paham dengan berbagai permasalahan di Aceh; (2) Menurut pengakuannya, atas motivasi dan bimbingan Siti Aisyah, ibu gurunya di bidang studi Bahasa dan Sastra di SMP Negeri 3 Takengon, Aceh Tengah, tempat Sulaiman Juned kecil bersekolah, ia semakin PD (Percaya Diri) menulis puisi. Apalagi setelah puisinya, sejak tahun 80-an, dimuat di berbagai Koran harian dan majalah; (3) Di samping darah seni yang diturunkan dari Abua (abang/kakak dari ibunya) bernama Abdullah, yang biasa dipanggil Syech, Syech Lah Jarum Meueh, pemimpin grup tari Seudati, Sulaiman Juned kecil juga berpendidikan formal sebagai mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia pada Universitas Syiah Kuala Darussalam-Banda Aceh. (1985); (4) Setelah berhasil menyelesaikan studinya, ia juga menjadi dosen di almamaternya, STSI Padangpanjang di Jurusan Teater, di samping dosen luar biasa di berbagai Perguruan Tinggi dan guru SMA dalam bidang studi Bahasa, Sastra, dan Teater Indonesia; (5) Di samping mengajar, Juned kecil (Sulaiman Juned) juga sering sekali mengikuti seminar, diskusi, dan workshop, terutama yang berkaitan dengan dunia sastra (puisi, novel, drama) dan teater. Kini ia sedang mengikuti studi lanjut di Program Pascasarjana STSI Surakarta, Program Studi Penciptaan Seni, dengan Minat Utama Seni Teater.

Faktor-faktor tersebut di atas jelas mendukung hadirnya Antologi Puisi Riwayat yang diharapkan, bukan saja menambah wawasan dan apresiasi seni puisi, riwayat seorang anak bangsa beserta keluarganya di tengah-tengah konflik dan bencana tsunami, serta dampaknya bagi warga Aceh, tetapi juga menambah wawasan pembaca antologi puisi ini terhadap respon dan sikap penulis dalam menghadapi fakta sejarah tersebut dengan tabah, meskipun dendam masih tersisa, dan hatinya sangatlah luka. Terutama dalam hal masih adanya kekerasan, kelicikan, ketidakadilan, banyaknya pengangguran dan kematian sia-sia. Mengapa perbedaan dan konflik tidak diselesaikan dengan toleransi dan cinta kasih? Selamat dan mari kita nikmati karya puisi penyair asal Aceh ini yang layak kita mamah bersama. Salam!



Kartasura, 12 Mei 2006
*) Penulis adalah Guru Besar Fakultas Sastra di Universitas Sebelas Maret Surakarta – Jawa Tengah.
More aboutPengantar 'Riwayat' oleh Soediro Satoto

Prasasti ‘ Riwayat’ Setangkai Mawar

Diposting oleh Unknown

Bagi Abi dan Emak:

Rindu Tertumpah hanya lewat ziarah-Yang kini sukmanya

tinggal bersamaku; mendampingiku

sepanjang usia.





Abangku-kakak-adikku:

Cupo Karmini-(Alm) Adoen Jubir-Cupo Miyah

Adoen Don dan Adoe Rasidah.

Selalu terkenang masa kecil kita yang diasuh dalam ajaran

cinta dan kasih sayang.







Bagi Titin Istriku:

Ini catatan hati. Persembahkan dengan segala rindu-cinta dan

do’a.







Bagi Soeryadarma Isman Anakku:

Ini catatan untuk kau ingat-kenang dalam hidup. Kuwariskan

padamu dalam meneruskan hidup dengan

cinta-damai









Bagi Prof. DR. Soediro Satoto

yang berkenan mengantar ‘riwayat’ menjadi cacatan

untuk dikenang-diingat-disimpan

jadi rembulan.









Bagi Aceh-Tanah Kelahiranku:

Ini aku tuliskan riwayatmu-ku-kita sebagai bukti aku ikut mendengar, merasakan

kepedihan Acehku yang tak pernah reda dari sengketa.
More aboutPrasasti ‘ Riwayat’ Setangkai Mawar

Ini Aku Tuliskan Riwayatku-mu

Diposting oleh Unknown

'Riwayat' tertulis dalam tiga periode. Periode I tahun 1980-1989. Periode II Tahun 1990-1994 dan Periode III Tahun 1995-2006. Riwayat yang terkumpul dalam antologi ini berangkat dari realita sosial menjadi realita sastra.

Riwayat ini bisa jadi milik pembaca yang hidup dan tumbuh dilingkungan masyarakat. Riwayat ini bisa jadi hanya milik penulis yang terekam lewat pengalaman emperik menjadi realita sastra. Selebihnya siapa dalam hidup ini yang tidak memiliki riwayat, semua kita pasti ada masa lalu. Terlepas masa lalu itu berangkat dengan manis atau pahit. Aku mencatat segala manis dan pahit, sakit dan senang, sedih dan bahagia-milikku-mu-kau-kami-kita-kalian agar menjadi catatan yang abadi untuk diwariskan kepada anak dan cucu.

Aku juga tidak lupa kenangan di Gayo-sebab peristiwa bahkan kata jadi syair dalam puisiku berawal dari sana bersama ibu guru Bidang Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Takengon-Aceh Tengah. Lalu Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Beureunuen-Pidie, di kampung asalku juga membuat riwayat ini semakin lengkap-di sini aku coba berkontemplasi dengan diri. Aku teruskan pendidikan di FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia yang mengantarkanku pada pertemuan/dialog sastra serta bermuara pada diskusi sastra ‘warung kopi’ di kantin Cempala UNSYIAH sekaligus mendirikan komunitas seni bernama ‘Sanggar Cempala Karya’ Banda Aceh yang membuat aku bersentuhan dengan seniman-seniman Aceh. Pada tahun 1997 aku hijrah ke Padangpanjang-Sumatera Barat sekaligus mendirikan Komunitas Seni ‘Kuflet’ yang sampai sekarang aku pimpin, di negeri ini aku juga bergumul pimikiran dengan seniman-seniman Minangkabau. Semuanya aku khabarkan dalam ‘riwayat’ sebagai perjalanan budaya.

Aku catatkan juga peristiwa yang mengurung ruang pemikiran, peristiwa yang sangat banyak menguras airmata—luka-hati dan darah bagi siapa saja yang merindui cinta damai. Hingga bermuara pada 26 Desember 2004; gempa dengan kekuatan 8,9 Skala Richter-klimaksnya Aceh disapu air raya bernama Tsunami sehingga tempat-tempat kenanganku-mu-kita-kami-kalian hilang dari peta. Aku dengar Penyair/teaterawan Aceh Maskirbi dan sekeluarga hilang dalam bala itu, sementara sekitar tanggal 24 Desember 2004, tepatnya hari Jum’at sekitar pukul 9.00 saya bersama Maskirbi sempat minum kopi pancung (kopi yang isinya setengah gelas) di Kantin Seniman Taman Budaya Aceh (TBA), dan kami punya niat suci untuk melaksanakan pertunjukan kesenian/pameran dalam tajuk “Jak Saweue Gampoeng” di Taman Budaya Aceh oleh masyarakat Aceh yang berdomisili di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang. Kebetulan adik-adik mahasiswa mempercayai saya untuk mengurus rencana kegiatan itu dengan pihak Taman Budaya Aceh yang diwakili Maskirbi, rencana itu sebenarnya sudah pasti tapi apa hendak di kata musibah gempa dan Tsunami membuat rencana itu batal. Begitu juga dengan penyair/teaterawan M.Nurgani Asyik sekeluarga yang berdomisili di Punge-hilang dalam peristiwa itu. Bang Nur begitu aku sering memanggilnya-beliau salah seorang seniman Aceh yang sangat dekat dengan saya, kemana-mana kami sering berdua (Sebelum aku hijrah ke Kota Padangpanjang-Sumatera Barat). Setiap aku pulang ke Aceh selalu saja menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya. Lalu pada tanggal 23 Desember 2004, aku tilpun Versevenny (Pelukis Wanita Aceh) yang juga Istrinya Nurgani Asyik-waktu itu baru kutahu Bang Nur dalam kondisi Stroke-Langsung saja aku pacu motor menuju Punge ke rumah bang Nur. Jumpa pak Hasan Basri (mertua bang Nur) yang juga dalam kondisi sakit-sakitan, Versevenny-kami banyak cerita dan M.Nurgani Asyik hanya memandangku dengan mata nanar. Aku ajak bang Nur berkeliling Ulee Lhee-Ulee Kareng-Darussalam tempat yang penuh nostalgia; tempat-tempat ini sering menjadi tempat diskusi-latihan alam (teater)-Latihan baca puisi dan latihan mencipta puisi (bersama adik-adik Sanggar Cempala Karya Banda Aceh-Nurgani Asyik juga sering saya ikutkan, sebab beliau adalah penasehat Sanggar) yang saya pimpin. Terkadang Bang Nur Almarhum berkaca-kaca matanya ketika aku singgah ditempat yang membuat kenangannya berbicara. Hari Kamis itu sengaja aku tunggu shanset turun di tepi Pantai Ulee Lhee sambil minum kopi dan memasukkan kacang tojin ke dalam kopi pancong hangat itu. Begitulah kebiasaan kami kalau sudah bertemu lalu berteriak saling membacakan puisi-puisi terbaru. Ada rasa haru dimata Bang Nur ketika beliau tahu aku sudah diangkat jadi Dosen Teater di STSI Padangpanjang. Sementara dengan Versevenny (pelukis wanita Aceh) ada yang belum terjawab-rencana melaksanakan kerjasama pertunjukan teater-perupa dalam tajuk ferpormance art “instalasi patung’. Begitulah kenangan yang tersisa dengan tiga seniman Aceh. Itupun tertuang dalam riwayat-kehilangan mereka sama pilunya hatiku dengan hilangnya sepupuku dalam gempa dan tsunami. Sekarangpun sering aku minum kopi lalu memasukkan kacang tojin ke dalam gelas kopi-untuk mengenangmu M.Nurgani Asyik.

Begitulah riwayat-aku coba catat segalanya di sini.
Salam kreatif penulis
More aboutIni Aku Tuliskan Riwayatku-mu