SASTRA DAN TRANSFORMASI MORAL

Diposting oleh Unknown on Jumat, 06 Maret 2009

Oleh: Sulaiman Juned

Moralitas suatu anak bangsa tidak cukup dengan pembelajaran afektif di sekolah-sekolah, hal ini tidaklah menjamin seorang anak didik akan berprilaku baik di tengah masyarakat. Mari kita berkaca pada wajah semesta, beberapa waktu yang lalu ada berita di media elektronik seorang anak yang mengalami keterbelakangan mental dibuang oleh keluarganya. Betapa tak bermoralnya anak bangsa kini, buah hati-darah dagingnya sendiri tega diperlakukan begitu, belum lagi berhubungan dengan masalah dosa. Luar biasa laku manusia di abad ini.
Ada juga seorang remaja mencekik pacarnya karena tak terima atas keputusan sang pacar yang memutus jalinan kasihnya. Akhirnya berurusan dengan pihak berwajib. Kini banyak kita temui seorang suami atau istri yang ringan tangan, memukul dan bahkan membunuh pasangan hidupnya. Masyarakat sangat mudah tersulut dengan rumor-rumor yang sengaja diciptakan, sehingga melakukan demonstrasi tanpa membawa isi kepalanya. Kekerasan demi kekerasan menjadi tontonan gratis di media elektronik, dan bacaan yang menarik di surat kabar. Muncul sekian pertanyaan di benak kita, sudah begitu merosotkah moralitas bangsa? apa penyebabnya?
Sederhana memang, ada ruang kognitif dan psikomotorik yang harus diisi dalam ruang kepala anak bangsa. Hal ini dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal, namun kita sering lupa secara afektif tidak cukup melalui pendidikan agama dan budaya di sekolah. Mengisi ruang-ruang afektif haruslah dilakukan melalui kualitas bacaan dari si anak didik. Bacaan sastra mampu menyemai nilai-nilai luhur bagi si anak seperti; keimanan-kejujuran-ketertiban-pengendalian diri-tanggungjawan dan kerja keras.
Karya-karya sastra secara tidak langsung dapat menjadi transformasi moral bagi anak manusia, betapa tidak jika kita membaca novel yang berjudul Tenggelamnya Kapal Vanderwijk Karya Hamka, otamatis pembaca disuguhkan pembelajaran terhadap adat istiadat, moralitas, kasih sayang. Bagaimana tokoh Zainuddin harus rela meninggalkan Hayati karena orang tua Hayati tidak mau menerima Zainuddin. Cinta tidak harus bersatu. Dewasa ini, generasi muda malas membaca karya-karya sastra sehingga prilakunya menjadi kasar, sebab di dunia pendidikan hanya mengisi otak sebelah kanan yang berfungsi untuk keilmuan semata. Sementara otak sebelah kirinya jarang dimamfaatkan, kemampuan membaca karya sastra dan latihan berpikir otak kiri mampu menciptakan kehalusan budi. Sebab otak kiri bermamfaat untuk mengolah seni, dan seni mampu memanusiakan manusia.
Jika pada masa dahulu kala, ibu atau nenek masih berkenan mengantar tidur anak atau cucunya dengan cerita dongeng yang didalamnya diselipkan pembelajaran moral. Ketika si anak tumbuh dewasa cerita sang ibu masih melekat di jiwanya yang bermuara pada keengganannya melakukan kesalahan-kesalahan. Hari ini kita tidak pernah lagi menyaksikan sang ibu yang meninabobokkan anaknya dengan cerita dongeng atau petatah-petitih yang berisi ajaran kebaikan. Anak-anak sekarang dininabobokan dengan lagu-lagu dangdut yang cengeng atau metalika yang keras yang menciptakan psikologis anak menjadi keras dan cengeng. Maka jangan heran apabila dewasa ini muncul generasi yang tidak bermoral atau generasi cengeng yang tidak siap untuk hisup mandiri. Mari kita ciptakan generasi yang bermoralitas dengan membaca sastra. Semoga!
Kolom Refleksi:
TELEVISI KOMUNITAS SEBUAH TANTANGAN
Oleh: Sulaiman Juned
Tergelitik juga tantangan yang ditulis Muhammad Subhan diruang Refleksi berjudul ’Padangpanjang Televisi’ (Haluan, 7/3) lalu. Benar, televisi lokal atau komunitas memang sangat penting di era ini untuk memberikan pencerdasan kepada masyarakat. Ada acara-acara khusus untuk mendulang kemajuan berpikir masyarakat yang tidak dimiliki oleh televisi lain. Barangkali di televisi lokal itu pulalah memprogramkan acara berbahasa minang, pengetahuan adat dan budaya Minangkabau serta pertunjukan-pertunjukan kesenian tradisi yang mulai terlupakan oleh serbuan sinetron di televisi nasional.
Penulis sempat dua tahun bermukim di Surakarta-Jawa Tengah. Sempat pula menikmati beberapa televisi lokal yang isiannya melakukan pencerdasan melalui budaya lokal. Ini suatu bukti, seperti; Solo TV, Semarang TV, Klaten TV menyiarkan berita berbahasa Jawa, dan mengingatkan kembali kepada pemirsa tentang adat istiadat Jawa serta menayangkan kesenian-kesenian tradisional. Hal ini tentu membuat seluruh pemirsa dapat mengakses kembali sesuatu yang telah lama hilang di tengah masyarakatnya. Sesuatu yang paling berharga dan berarti buat generasi muda-akhirnya mereka mengetahui dan memahami sosial budaya masyarakatnya. Selain menjadi mediator bagi masyarakat mengenai aturan Pemerintah Daerah barangkali.
Apabila di Padangpanjang didirikan stasiun televisi pastilah sangat mungkin. Betapa tidak, coba kita berkaca ke Surakarta, di Kotamadya itu memiliki sebuah perguruan tinggi seni bernama Institut Seni Indonesia. Di sana ada pula Fakultas Media Rekam yang salah satu jurusannya adalah Televisi. Pemerintah Daerah mendirikan televisi lokal bernama Solo TV, lalu dilaksanakanlah kerjasama antara PEMDA dengan ISI yang hasil akhirnya melahirkan beberapa stasiun televisi lokal di beberapa kota Jawa Tengah.
Berangkat dari pengalaman itu, kenapa tidak di Padangpanjang yang nota bene memiliki Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, didalamnya memiliki jurusan Televisi dan Film. Tentu dibutuhkan kerajasama yang harmonis memang antara PEMDA dan STSI. Di STSI Padangpanjang sudah ada fasilitas untuk pendirian Televisi Komunitas. Sudah ada tower dan peralatan lainnya, juga pekerjanya secara pasti mahasiswa jurusan televisi yang telah menimba ilmu tentang pertelevisian. Tinggal bagaimana membentuk kerjasama antara kampus seni itu dengan pihak PEMDA.
Barangkali ada masalah egosentris yang membumbung antara dua institusi ini, namun mari kita bercermin pada cermin yang datar, sehingga dapat melihat dengan jernih kebutuhan sosial masyarakat kita. Mari kita jalin keharmonisan yang selama ini mungkin ada ketidakcocokan. Bersama kita bangun kekuatan televisi Padangpanjang, saling memberi dan menerima-saling memunculkan kelebihan dan menutupi kelemahan. Masyarakat Padangpanjang pasti merindukan hadirnya televisi lokal (komunitas). Melalui televisi lokal banyak hal yang dapat kita perbuat, mensosialisasikan kota ini sebagai satu-satunya kota Serambi Mekkah-kembali ke surau dan kembali ke nagari yang masih kurang dipahami dan dimengerti oleh sejumlah anak kemanakan kita. Tentu bisa dan mungkin Subhan, sebab alat pendukungnya sudah sangat...sangat..sangat mungkin. Kita tunggu kehadirannya. Semoga!

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar