Oleh: Sulaiman Juned
Guru selayaknya siap menjadi manusia yang mampu mengisi ruang afektif, kognitif dan psikomotorik. Guru seharusnya menjadi manusia yang paling disegani, dijadikan suri tauladan di tengah realitas sosial masyarakat. Dahulu kala, di negeri ini penghormatan kepada seorang guru sama menghormati ulama. Itu cerita dulu.
Dewasa ini, banyak oknum guru yang sikap dan tingkah lakunya tidak mencerminkan seseorang yang memiliki intelektualitas. Penulis sangat terenyuh ketika suatu wakru menyaksikan sang ’cekgu’ memaki-maki muridnya atau mahasiswanya dengan bahasa yang seronok, karena sang murid mungkin memprotes tentang bahan ajar yang sudah kadaluarsa, atau buku pegangannya dianggap kitab kuning padahal terbitan tahun 1995, misalnya. Sementara muridnya membaca buku terbaru, lalu terjadi perdebatan, sang guru tak mau kalah-memakai kekuasaan sebagai guru. Wah, ini bukan mentalitas guru/dosen yang memberikan pencerdasan kepada muridnya. Guru seperti ini akhirnya dimusuhi dan diburu, betapa tidak! Sungguh banyak guru yang dipukuli dan bahkan dibunuh oleh muridnya.
Lebih terenyuh lagi, ketika menyaksikan seorang guru tidak memberikan ajaran moral-ilmu dan kemampuan. Ada sekolah dan bahkan pendidikan tinggi yang masih memberlakukan sistem hukuman dan hadiah. Ketika muridnya terlambat sampai ke sekolah sang murid dihadiahi cercaan dan makian bahkan membersihkan WC, atau karena terlalu sering terlambat lalau mereka dapat poin kesalahan terlalu banyak, hukuman selanjutnya adalah skorsing tidak boleh masuk sekolah selama satu minggu. Hukam ini membuat murid tetap berangkat ke sekolah dari rumah. Orangtua tidak diberi tahu, mereka hanya menghabiskan waktu di tempata-tempat PS (Play Station) atau warung kopi lalu terlibat narkoba. Ia semakin benci dengan dunia pendidikan. Secara i Sistem ini tidak berpihak kepada dunia pendidikan.
Sementara jika diberikan hadiah, para murid senang belajar. Rajin menuntut ilmu dengan harapan dapat nilai tinggi. Bagi siapapun yang mendapat nilai tinggi otomatis pula rangkingnya menjadi bagus, minimal rangking 1, 2 dan 3 pasti mendapat hadiah. Terlepas besar dan kecilnya hadiah, namun yang jelas pemberian hadiah secara tidak langsung menciptakan anak didik dari usia dini menjadi manusia yang mengharapkan pamrih. Hal ini sangat berbahaya, kita mendidik anak bangsa berjiwa koruptor.
Jadi, kapan bangsa ini dapat berubah jika dunia pendidikan tidak melakukan perubahan dalam sistem guru memberikan pembelajaran dilapangan. Jika murid dibesarkan dengan sistem hukuman, maka ia akan menjadi generasi pendendam yang berujung jadi penjahat. Apabila murid dibesarkan melalui sistem hadiah, maka melahirkan generasi-generasi suka suap-menyuap, nepotisme dan koruptor. Janganlah menjadi penerus yang meneruskan kesalahan-kesalahan. Selayaknya jadilah generasi pelurus yang meluruskan kesalahan-kesalahan. Guru harus melahirkan kebenaran dan meluruskan kesalahan. Betapa banyak oknum pejabat yang jadi penjahat, didalamnya tentu sistem pendidikan di sekolah membekam di jiwa anak didik, sehingga terbawa dalam kehidupan. Hati-hatilah duhai guru, mau digugu-ditiru atau diburu. Semoga!
(Dimuat Harian Umum haluan, Kamis 26 Februari 2009).
{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar