Oleh: Sulaiman Juned
Kritik merupakan upaya melakukan penafsiran, penghakiman secara adil sebuah karya atau memberikan penilaian baik-buruknya sebuah karya. Kritik juga berfungsi sebagai jembatan antara karya dan pembaca. Pelaku kritik disebut kritikus.
Di dunia seni, baik itu bernama seni sastra maupun seni pertunjukan sangatlah dibutuhkan seorang kritikus. Tanpa kritikus sebuah karya seni akan terkesan tertutup apalagi karya seni yang bergaya absurditas, tentu susah dipahami oleh kalangan pembaca atau penonton yang awam. Karya yang demikian dibutuhkan seorang kritikus untuk menjawab teka-teki yang ada dalam karya seni tersebut.
Kritikus berusaha mencari-menunjukkan-menentukan nilai dengan menganalisa ataupun melakukan perbandingan secara teoritis asal saja tidak bergeser dari poetika pengarang, nilai artistik sutradara dan koreografer serta komposer. Bagi pelaku-pelaku seni, tentu sangat membutuhkan kehadiran kritikus, sebab seorang kritikus mampu menghayati nilai-nilai yang tercipta dalam sebuah karya melalui pendekatan yang benar-benar telah dikuasainya. Kritikus sudah melewati proses kreatif berkarya yang akhirnya mampi menguasi konsepsi atau teori sebuah karya seni.
Kritikus tentu pula dituntut memiliki ketekunan dalam membaca, setiap saat perlu mengasah ketajaman berpikir agar tidak hanya ’memaki-maki’ atau ’menyalahkan’ saja karya orang lain yang berujung menjerumuskan pembaca dan pencipta karya.
Sesungguhnya kritikus membantu para pencipta karya agar dapat mengetahui sejauhmana kualitas diri dan karyanya bermanfaat bagi kehidupan sosial masyarakatnya. Kritikus haruslah memiliki semboyan membina dan membimbing penulis, sutradara, koreografer, komposer, pelukis melalui kritik yang edukatif.
Kritikus, hendaknya berfungsi sebagai kurasi dan mediasi dalam sebuah karya sang kreator. Artinya harus berani menyatakan kejujuran terhadap kualitas karya atau mengungkapkan asli tidaknya sebuah karya tersebut. Memang di daerah kita ini sangat minim kritikus, dan kita harus belajar banyak kepada pengalaman empirik HB. Jassin, Sapardi Joko Damono dan sejumlah nama lainnya.
Kreator hanyalah sebagai pelaku dari karya seni itu, dan tanpa berpikir lebih jauh tentang karya itu akan menjadi ’apa’ di tengah masyarakatnya nanti. Kreator hanya mengangkat realita sosial menjadi realitas sastra, realitas teater, realitas tari dan realitas musik. Sedangkan kritikus yang membahasakan konsepsi karya tersebut kepada pembaca dan penonton. Sungguh ironis memang, Sumatera Barat yang sangat terkenal dengan gudangnya seniman, kini hanya memiliki satu-dua kritikus (kalau tak berani dikatakan tak ada). Kritikus masih sangat dibutuhkan dalam era kini, siapa yang akan mensosialisasikan karya sastra penyair, cerpenis, novelis dan dramawan kepada khalayak pembaca kalau tak ada kritikus. Siapa yang menjadi jembatan terhadap pemaknaan sebuah pertunjukan tari kontemporer-teater kontemporer kepada khalayak penonton, jika tak ada kritikus. Selebihnya sang kreatorpun membutuhkan masukan dari kritikus untuk mampu melahirkan karya-karyanya yang monumental.
Mari kita tunggu kelahiran kritikus-kritikus seni Sumatera Barat yang berkualitas yang mampu membaca karya para kreatornya. Semoga!
{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar