Oleh: Sulaiman Juned
Bacalah! Bacalah dan bacalah, begitu Allah memerintah kepada Rasulullah SAW melalui sang Malaikat, sejak 610 masehi untuk menyampaikan kepada makhluk yang bernama manusia agar membaca. Baca bertujuan menajamkan pikir, rasa, dan perenungan serta pencerahan diri.
Membaca tidak hanya buku, tapi juga membaca alam, pikiran manusia lainnya. Dewasa ini, manusia sebagai khalifah di atas bum, enggan untuk mengisi ruang pikir dengan membaca. Malas membaca secara pasti pula menghilangkan tradisi berpikir kritis. Manusia menjadi cerdas-kritis karena bacaannya.
Hal ini dapat penulis buktikan, generasi muda sekarang malas membaca. Penulis mengajar di beberapa perguruan tinggi di Sumatera Barat. Setiap matakuliah yang saya ajarkan mahasiswa wajib buku referensi minimal sepuluh buah. Setiap pertemuan saya menanyakan isi dari satu per satu buku tersebut, dengan maksud akan terjadi tradisi diskusi di ruang kelas. Namun sayang, mereka menjawab belum baca, padahal ke sepuliuh buku sudah saya mintakan untuk di fotocopy kalau tidak mampu beli yang aslinya. Ketika penulis tanyakan berapa buah buku satu hari anda baca! Tanpa merasa bersalah dengan ringan mereka menjawab, satu lembar (maksudnya satu halaman) buku paling kuat. Inilah fenomenan generasi penerus yang lima atau sepuluh tahun nanti akan menjadi pemimpin bangsa. Mau jadi apa negeri yang menurut kelompok musik Koesplus; tongkat, kayu dan batu jadi tanaman. Marilah kita berkaca dengan membaca kita telah menggelar isi dunia dan langit di ruang kepala kita.
Selanjutnya menulis, tradisi menulis pun telah mulai hilang di tengah masyarakat kita, padahal Allah berfirman; ’...demi pena yang mereka tulis...’. Menulis merupakan pekerjaan mulia apalagi mampu memaknai setiap yang kita tulis sama dengan ibadah. Sesuatu yang tertulis, baik berupa buku-koran-majalah dibaca oleh banyak orang, tulisan tersebut menambah pengetahuan, ilmu dan pencerahan secara otomatis pula bernilai ibadah. Sesungguhnya profesi wartawan merupakan makhluk yang paling banyak menerima pahala. Betapa tidak, para jurnalis selalu saja menyampaikan informasi, ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat tanpa mengharap pamrih.
Menulis bagi banyak orang barangkali pekerjaan yang sulit dan sukar. Sesungguhnya menulis itu gampang asal rajin membaca apa saja, berani mengeluarkan pendapat, berani kreatif dan tidak menyontek, serta tekun untuk menulis apa saja-kapan saja dan dimana saja. Jadi, untuk menjadi penulis haruslah rajin membaca, bagi seorang penulis hindari untuk memilih-milih buku yang dibaca, penulis harus siap dan senang untuk membaca buku apa saja.
Penulis yang baik terlebih dahulu harus menjadi pembaca yang sangat..sangat..sabgat baik. Mustahil seorang penulis mampu melahirkan karya terbaiknya, andai ruang pikir tidak diisi dengan membaca. Baca lalu tulislah, jangan berhenti membaca jangan pula berhenti menulis. Semoga kita mejadi pembaca dan penulis terbaik.
(Dimuat di Harian Umum Haluan, Kamis 5 Maret 2009)
{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar