Kolom "Refleksi da Detak Jam Gadang"Sulaiman Juned

Diposting oleh Unknown on Senin, 02 Maret 2009

Kolom Refleksi:

CALEG DAN SELEBERITIS
Oleh: Sulaiman Juned

Proklamator Republik Indonesia, Bung Hatta pernah berpesan pada tahun 1955, ”Memilih itu bukan kewajiban yang ditimpakan kepada saudara, melainkan hak saudara. Hak ikut serta menentukan nasib sendiri sebagai warga bangsa yang ikut berdaulat. Akan tetapi dengan hak itu saudara ikut memikul tanggung jawab tentang buruk atau baik nasib kita sebagai bangsa” (Kompas, 22 Februari 2009).
Pemilu legislatif sudah di ambang pintu, siap tak siap haruslah siap pada 9 April 2009 nanti, dan kita pun harus memerdekakan diri untuk memilih, tanpa tekanan, tanpa paksaan dari dan oleh siapapun. Penulis sangat setuju ungkapan Bung Hatta mengenai Pemilu. Memang sebagai anak bangsa selayaknya begitu.
Namun sayang, semakin dekatnya pelaksanaan Pemilu untuk capres, atau legislatif yang duduk di DPR/DPRD tingkat provinsi, kabupaten/kota para kandidat mulai ’turun gunung’ dan ’menebar pesona’. Mereka mulai melakukan politik pendekatan kepada rakyat. Hal ini sama persis yang dilakukan oleh para selebritis di negeri ini, ketika mereka kehilangan pamor lalu menciptakan ramor di ruang-ruang publik agar mereka dibicarakan kembali. Mulailah diciptakan gosip baik di program Gospot, Silet maupun Sergap (milik RCTI) untuk menaikkan pamornya kembali. Jika mereka bermandikan kemewahan, tak pernah ingat kepada penggemarnya. Sering penggemarnya dilupakan begitu saja. Luar biasa!
Tebar pesona melalui poster, spanduk, dan baliho di jalan raya seperti bintang bertebaran di langit biru. Memasang iklan di media massa dengan bahasa yang membumbung tinggi sampai ke langit ke tujuh. Bahkan ada juga yang melakukan ’turun gunung’ untuk mendatangi rumah-rumah rakyat, memperkenalkan diri memperkuat ”brand” pribadi dan partai. Ada yang lebih tragis mereka berani menjatuhkan lawan dengan cara tidak ’fair’. Di setiap desah nafas mereka lakukan kampanye walau lewat metode saling memperolokkan, mengejek-menghina. Inilah mentalitas calon wakil kita.
Rakyat memerlukan wakil yang jujur-amanah dan mampu memperjuangkan nasibnya. Para caleg selayaknya melakukan sosialisasi dan konsolidasi terhadap cara mencoblos atau mencontreng. Ini lebih penting dilakukan caleg, sebab ada empat lembar kertas pemilihan yang lebar-lebar yang membuat bingung pemilih di ruang sempit nanti. Caleg lebih tepat menjelaskan fungsi, tugas dan kedudukan wakil rakyat di DPR-DPD-DPRD itu apa saja, lalu untuk siapa keberadaan mereka itu dianggap penting di bumi pertiwi ini. Jika perlu melakukan pidato di televisi dan radio, tentang pendidikan, budaya dan ekonomi atau perkembangan politik di negeri ini.
Para caleg tak perlu ’turun gunung’ dan ’tebar pesona’ dengan pamflet, spanduk, baliho yang tersebar seluruh kota. Berapa dana yang harus dikeluarkan, wah ini luar biasa. Apakah nanti ketika jadi anggota DPR/DPRD tidak berpikir untuk mengembalikan uang yang telah banyak terkuras? Tak perlu pula para caleg saling menjatuhkan lawan politik dengan jalan tidak sehat. Andai terpilih nanti, apakah ingat dengan orang-orang yang ber-’keringat-keringat’ di bilik sempit untuk memberikan suara kepadanya. Apakah para caleg tidak berperilaku sama dengan selebritis kita yang melupakan penggemarnya. Semoga tidak! Mari bercermin pada wajah kita yang ’bopeng’ dan ’bertopeng’. ***

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar