TAUFIK ISMAIL DAN RUMAH PUISI

Diposting oleh Unknown on Sabtu, 03 Oktober 2009

Oleh: Sulaiman Juned
Sastrawan nasional Taufik Ismail mendirikan Rumah Puisi di Nagari Aie Angek, Kabupaten Tanah datar, Sumatera Barat. Tepatnya di bawah kios sayur segar menuju Koto Baru. Ini suatu yang menggembirakan, di rumah puisi tersebut kita dapat membaca buku sejumlah tujuh ratus ribu judul buku; buku-buku tersebut terdiri dari dari buku sastra, filsafat, ekonomi, agama, dan politik serta hukum.
Rumah Puisi ini bertujuan untuk menggalang kecintaan terhadap gerakan membaca dan menulis sastra. Melakukan pelatihan-pelatihan pengajaran sastra untuk guru bahasa dan sastra Indonesia se-Sumatera Barat. Niat suci yang dibangun Taufik Ismail, pembelajaran kepada para guru dan siswa tanpa memungut biaya, malahan beliau memberikan transfortasi.
Jika kita ingin tahu bagaimana kecintaan Taufik terhadap puisi, mari kita simak puisinya yang berjudul: ”Dengan Puisi, Aku” //dengan puisi aku bernyanyi/sampai senja umurku nanti/dengan puisi aku bercinta/berbatas cakrawala/ dengan puisi aku mengenang/ keabadian yang akan datang/dengan puisi aku menangis/ jarum waktu bila kejam mengiris/dengan puisi aku mengutuk/nafas zaman yang busuk/ dengan puisi aku berdoa/ perkenankanlah kiranya//. Puisi yang ditulisnya pada tahun 1965 ini, menjadi modal dan semangat hidup dalam menjalani dunia kesusastraan Indonesia Modern. Memang telah ia buktikan kesetiaannya dalam berkarya. Puisinya membahasakan protes sosial-sejarah-religiusitas-nasionalisme, ia terlibat langsung dengan masalah yang hidup dalam realitas sosial lalu dijadikan realitas sastra. Puisinya membahasakan semua gelajala, dan dari puisi kita dapat membaca tanda-tanda zaman.
Puisi yang paling berharga-tak ternilai harganya adalah pendirian ’rumah puisi’. Ini luar biasa, seorang sastrawan nasioanal yang berasal dari Bukittinggi-Sumatera Barat. Besar dan dikenal luas tidak hanya di Indonesia tapi dunia, berkenan dengan kerendahan hati pulang ke kampung halaman, mendirikan ’rumah puisi’ untuk dibaca dan dicintai oleh setiap generasi. Penulis membaca keinginan Taufik Ismail dengan pendirian rumah puisi ini sesungguhnya Taufik menciptakan puisi yang sangat monumental buat bangsa dan negara Indonesia.
Kemudian, siapa yang mampu menghargai niat luhur Taufik Ismail, setiap bulan dalam usianya yang tidak muda lagi, mondar-mandir Jakarta-Nagari Aie Angek dua minggu di Jakarta-dua minggu di ’rumah puisi’ untuk memberikan pembelajaran baik kepada guru bahasa dan sastra Indonesia maupun kepada siswa-siswa SLTA. Beliau benar-benar telah bernyanyi dengan puisi buat pencerahan masyarakatnya sampai senja umurnya kini.
Ketika penulis berkunjung ke rumah puisi. Disana Taufik Ismail beserta sastrawan tamu Acep Zamzam Noer, Joni Ariadinata, dan Gus Tf sakai sedang menerima tamu guru-guru bahasa dan sastra Indonesia Se-Kota Payakumbuh. Taufik memaparkan paradigma pengajaran sastra; asyik, nikmat dan gembira. Membaca langsung karya sastra. Kelas mengarang harus menyenangkan. Menafsir karya sastra harus beragam tidak tunggal. Teori,definisi, sejarah sastra merupakan informasi skunder. Sastra menyemaikan nilai-nilai luhur bagi pembacanya seperti; keimanan, kejujuran, ketertiban, pengendalian diri, tanggungjawab, kebersamaan, kerja keras dan optimisme. Luar biasa! Bravo Taufik Ismail, kami bangga!

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar